Jakarta, VIVA – Pengasuh Pondok Pesantren Sembilangan Madura, Muhammad Shofwan Taj atau dikenal Lora Shofwan menilai posisi dan gambaran jam’iyyah NU mulai bergeser dan terlihat banyak 'preman' yang beraktivitas didalam jam’iyyah menjelang muktamar ke-35.
"Preman ini adalah mereka yang merasa bebas didalam struktur NU; tidak ingin terikat pada norma dan etika jam’iyyah, namun berkehendak memaksakan kepentingannya dengan intimidasi dan ancaman, demi ambisi pribadi," kata Lora Shofwan kepada wartawan, Rabu, 24 Juni 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menilai NU tepat diumur 100 tahun kalender miladiyah berada dalam kondisi kritis. Menurutnya, 'awan gelap' menyelimuti marwah organisasi yang didirikan oleh para wali dan ulama nusantara.
“Salah satunya terlihat saat sidang pleno III konbes dan munas NU di Ploso. Bagaimana para preman organisasi bermanuver dihadapan para masyayikh NU dan sesepuh pesantren. Tanpa adab dan unggah-ungguh santri, mereka meluapkan pikiran dan sikap emosional,” kata Lora Shofwan.
KH Shofwan menjelaskan, fenomena selama konbes dan munas menjadi cermin pragmatisme dan kapitalisasi jam’iyyah sudah menjangkiti secara akut pada struktur dan kader organisasi. Pun, kehadiran masyayikh NU dan sesepuh pesantren di tengah-tengah mereka tidak lagi dipertimbangkan dan dijadikan kompas moral berjam’iyyah.
"Beruntunglah para pemimpin jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang memperjuangkan kejayaan jam’iyyah-nya dan celakalah pemimpin yang memperkuda (menunggangi) jam’iyyah Nahdlatul Ulama untuk mengejar kepentingan pribadi,” kata dia.
Dia menyebut kerusakan jam’iyyah NU dimulai dari kepentingan ingin berkuasa didalam NU yang digunakan untuk mendapatkan kekuasaan di pemerintahan atau akses ke oligarki. Para pemimpin NU dinilai semakin jauh untuk bisa menghadirkan NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“NU sekarang bukan lagi sebagai rumah besar untuk berteduh semua warganya dan masyarakat. Tapi, dikuasai preman-preman yang ingin mendapat keuntungan pribadi dan kelompok dengan menunggangi kebesaran NU,” ungkap Lora Shofwan.
Bagi Lora Shofwan, dinamika pelaksanaan Konbes dan Munas NU di Ploso Kediri, telah membuka tabir yang sesungguhnya tentang NU yang ditarik sepenuhnya didalam arus besar kekuasaan.
Halaman Selanjutnya
“Sepanjang pengurus PBNU menjadi pejabat politik atau mendapat posisi di kekuasaan yang di-endorse atas bargaining atau kompensasi politik, maka sepanjang itu pula NU tidak bisa menegaskan posisinya sebagai pembawa risalah dan kemashlahatan umat,” kata Lora Shofwan.

3 weeks ago
5











