Jakarta, VIVA – Grup Kolintang Rhythm of Minahasa (RoM) tengah bersiap tampil di Paris, Prancis, pada 27 September—3 Oktober 2026, guna membawa misi diplomasi budaya Indonesia di agenda UNESCO.
Perwakilan Rhythm of Minahasa, Ferdinand Soputan menyampaikan, pertunjukan itu tidak sekadar menampilkan musik tradisional, tapi juga memperkenalkan kekayaan seni Nusantara melalui konsep Jembatan Budaya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dia menegaskan, penampilan di UNESCO akan menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kemampuan alat musik kayu tradisional Minahasa, yang dapat memainkan beragam genre dan nada dari berbagai belahan dunia.
"Ini suatu kebanggaan buat kami, dan tentunya kehadiran kami bukan hanya sekadar mempertunjukkan musik, tapi adalah bagian misi diplomasi budaya untuk kita memperkenalkan keindahan Nusantara, warisan budaya kita," kata Ferdinan dalam keterangannya, Jumat, 18 September 2026.
Kolintang
Photo :
- Tangkapan layar instagram/putradwii
Dalam persiapan menuju Paris, RoM telah menyusun repertoar lagu yang dirancang untuk memperkenalkan identitas kolintang sekaligus membangun kedekatan dengan penonton internasional.
Pertunjukan akan mencakup lagu-lagu daerah Nusantara, yang berakar pada identitas budaya Minahasa dan Sulawesi Utara. Repertoar tersebut diharapkan dapat memperdengarkan karakter suara asli kolintang, serta memperkenalkan akar tradisi alat musik tersebut.
Selain lagu-lagu daerah, RoM juga menyiapkan satu karya klasik dunia dengan aransemen orkestrasi kompleks. Materi tersebut akan menjadi ruang bagi para pemain untuk menunjukkan keterampilan individu dan kemampuan kolintang dalam memainkan komposisi musik dengan tingkat kompleksitas tinggi.
"Di sini kami memperlihatkan skill dan keterampilan bermain dari masing-masing individual, sehingga kolintang yang berlabel tradisional adalah instrumen yang berkelas dunia," ujar Ferdinan.
Dia menambahkan, RoM juga mempersiapkan lagu populer yang dikenal masyarakat lokal di Paris. Pemilihan repertoar tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi budaya, melalui musik yang telah akrab bagi audiens setempat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Lagu populer tersebut diharapkan dapat menjadi kejutan bagi penonton ketika dimainkan menggunakan alunan kolintang," ujarnya.
Guru Besar Etnomusikologi, Prof Frengky Raden mengatakan, konsep Jembatan Budaya menjadi landasan utama penampilan grup Kolintang Rhythm of Minahasa. Melalui konsep ini, kolintang ditampilkan sebagai alat musik tradisional yang memiliki fleksibilitas untuk berkolaborasi dengan beragam genre dan musisi.
Halaman Selanjutnya
Grup tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan musisi lokal di Paris apabila kondisi memungkinkan. Kolaborasi itu diharapkan menunjukkan keterbukaan kolintang terhadap berbagai tradisi musik dunia.

53 minutes ago
1


















