Kehancuran Bangsa Bukan karena Bencana Alam, tapi Dimulai Elite Bodoh dan Haus Kuasa

3 weeks ago 10

Senin, 18 Mei 2026 - 21:00 WIB

Jakarta, VIVA – Kehancuran sebuah bangsa disebut sering kali bukan dipicu bencana alam, melainkan lahir dari kekuasaan yang kehilangan akal sehat dan nurani.

Demikian disampaikan pengamat hukum dan politik, Pieter C Zulkifli saat mengulas bagaimana kombinasi antara kebodohan, ambisi kekuasaan, dan lemahnya integritas dapat menjadi awal dari keruntuhan sebuah bangsa, termasuk ancamannya terhadap demokrasi dan masa depan Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia bahkan menyebut di tengah dunia yang semakin gaduh oleh krisis ekonomi, polarisasi politik, dan merosotnya kualitas demokrasi, banyak negara kini justru menghadapi ancaman paling serius dari dalam dirinya sendiri, seperti lahirnya pemimpin yang miskin kapasitas, tetapi rakus kekuasaan.

"Gempa bumi dapat merobohkan bangunan dalam hitungan detik. Banjir bisa melumpuhkan kota hanya dalam semalam. Pandemi pernah membuat dunia nyaris berhenti bernapas. Namun sejarah manusia membuktikan, bangsa-bangsa besar sering kali mampu bangkit dari bencana alam," kata Pieter dalam keterangannya, Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Bagi dia, yang jauh lebih sulit dipulihkan justru kerusakan yang lahir dari tangan pemimpin bodoh dan haus kuasa. Dia mengatakan ujian terbesar bagi rakyat bukanlah bencana alam, melainkan elite yang bodoh dan jahat.

"Pernyataan ini sangat relevan untuk merefleksikan betapa pentingnya kualitas kepemimpinan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab kebijakan yang lahir dari pemimpin buruk atau tidak kompeten dapat membawa dampak destruktif jangka panjang bagi seluruh sendi kehidupan masyarakat," katanya.

Pieter menyatakan kebodohan dalam kepemimpinan bukan sekadar rendahnya tingkat pendidikan atau kurangnya kemampuan teknis. Kebodohan politik lahir ketika seorang pemimpin gagal memahami realitas rakyat, menolak kritik, memusuhi akal sehat, dan lebih sibuk menjaga citra ketimbang menyelesaikan persoalan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Situasi menjadi jauh lebih berbahaya ketika kebodohan itu berpadu dengan kerakusan kekuasaan. Di titik itulah negara mulai bergerak menuju kemunduran.

Dia lantas mengutip filsuf Yunani, Plato, pernah mengingatkan, 'The penalty good men pay for indifference to public affairs is to be ruled by evil men', di mana hukuman bagi orang-orang baik yang abai terhadap urusan publik adalah dipimpin oleh orang-orang jahat.

Halaman Selanjutnya

"Kalimat itu terasa relevan di banyak negara, termasuk Indonesia, ketika politik lebih dipenuhi pencitraan daripada gagasan, lebih sibuk mengelola loyalitas ketimbang meritokrasi," katanya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |