Kemendag Dorong Sektor Perdagangan Jadi Jembatan Perdamaian di Tengah Geopolitik Global

2 days ago 7

Senin, 13 Juli 2026 - 09:49 WIB

Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, menegaskan komitmen Indonesia untuk terus menjadikan sektor perdagangan sebagai instrumen stabilitas, kemakmuran, dan kerja sama internasional, di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik.

Hal tersebut disampaikan Wamendag saat menjadi pembicara pada The 10th Jakarta Geopolitical Forum 2026, yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengangkat tema mengenai masa depan perdagangan global di tengah persaingan strategis dunia, Wamendag Dyah Roro menegaskan bahwa Indonesia memilih jalan kolaborasi, diplomasi ekonomi yang terbuka, dan penguatan sistem perdagangan multilateral sebagai fondasi menciptakan stabilitas ekonomi global.

"Trade must remain a bridge, not a battlefield. Perdagangan harus menjadi jembatan yang mempererat kerja sama antarbangsa, bukan menjadi arena konfrontasi," kata Dyah Roro dalam keterangannya, Senin, 13 Juli 2026.

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti

Menurutnya, dunia saat ini tengah mengalami transformasi besar. Perdagangan tidak lagi dipandang semata sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan keamanan nasional, penguasaan teknologi, kebijakan industri, hingga pengaruh geopolitik.

Kondisi tersebut mendorong meningkatnya penggunaan tarif, pembatasan ekspor, sanksi ekonomi, dan berbagai instrumen perdagangan strategis yang berdampak terhadap rantai pasok global.

Di tengah situasi tersebut, Wamendag menegaskan bahwa Indonesia memilih membangun ketahanan ekonomi melalui keterbukaan, bukan dengan menutup diri dari perdagangan internasional.

Menurutnya, strategi Indonesia berfokus pada diversifikasi pasar ekspor, perluasan kemitraan perdagangan, penguatan daya saing industri nasional, hilirisasi, transformasi digital, serta pembangunan rantai pasok yang lebih tangguh.

"Ketahanan bukan berarti isolasi. Ketahanan adalah kemampuan untuk tetap terbuka, adaptif, dan menjadi mitra perdagangan yang terpercaya," ujarnya.

Lebih lanjut, Wamendag menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen mendukung sistem perdagangan multilateral, yang berbasis aturan (rules-based multilateral trading system). Indonesia mendukung reformasi World Trade Organization (WTO), termasuk pemulihan mekanisme penyelesaian sengketa, pembaruan aturan perdagangan digital, serta penguatan perlakuan khusus bagi negara berkembang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Indonesia juga mendorong reformasi tata kelola ekonomi global melalui International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, agar lebih mencerminkan meningkatnya peran negara-negara berkembang dalam perekonomian dunia," ujarnya.

Dalam forum tersebut, Wamendag menjelaskan bahwa Indonesia memanfaatkan transformasi ekonomi global, sebagai peluang untuk memperkuat posisi sebagai middle power yang mampu membangun jembatan kerja sama antar kawasan. Indonesia terus memperluas diplomasi ekonomi melalui ASEAN, G20, APEC, BRICS, OECD, dan WTO, sekaligus memperkuat jaringan perjanjian perdagangan internasional.

Halaman Selanjutnya

Diketahui, saat ini Indonesia telah memiliki sekitar 20 perjanjian perdagangan yang mencakup lebih dari 60 persen total perdagangan nasional, sehingga menjadi instrumen penting untuk memperluas akses pasar, meningkatkan daya saing ekspor, dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |