Kenali PM10 dan PM2,5 dalam Abu Vulkanik, Apa Bedanya?

22 hours ago 3

Sabtu, 12 September 2026 - 11:12 WIB

VIVA - Abu vulkanik terdiri atas campuran partikel dengan ukuran dan komposisi yang beragam. Sebagian fraksi abu yang tersuspensi di udara dapat berada dalam rentang particulate matter (PM) yang berpotensi terhirup dan memengaruhi kesehatan pernapasan.

Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Sondang Ruth Angelia Sirait, M.Ked.(Paru), Sp.P, mengatakan semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Secara umum, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan, bahkan sebagian partikel yang sangat halus dapat mencapai saluran napas kecil yang disebut alveolus yang akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif," kata Sondang, Sabtu, 12 September 2026.

Ia mengatakan karena itu prinsip utama saat terjadi paparan abu vulkanik adalah mengurangi paparan sedapat mungkin. PM10 merupakan partikel dengan diameter aerodinamik 10 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan.

Sementara PM2,5 berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil sehingga dapat menembus lebih dalam hingga saluran napas kecil di paru. Semakin kecil ukuran partikel, semakin besar kemungkinan partikel tersebut mencapai bagian saluran pernapasan yang lebih dalam.

Namun, dampak abu vulkanik terhadap kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ukuran partikelnya. Konsentrasi partikel di udara, lama paparan, serta komposisi mineral dan kimia abu juga memengaruhi dampaknya. Kondisi kesehatan setiap orang turut menentukan tingkat kerentanan terhadap paparan.

Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi, hingga sesak napas. Paparan juga dapat menimbulkan gangguan pada mata dan kulit.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit paru kronis lainnya, abu vulkanik dapat memicu atau memperberat gejala. Anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan penyakit paru atau kardiovaskular juga perlu lebih berhati-hati karena lebih rentan terhadap dampak paparan partikel di udara.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat karena dapat meningkatkan frekuensi dan kedalaman napas sehingga jumlah partikel yang terhirup menjadi lebih banyak.

Halaman Selanjutnya

Jika harus berada di luar ruangan atau membersihkan abu, masyarakat disarankan menggunakan masker respirator partikulat seperti KN95, N95, atau standar setara.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |