VIVA –Entah itu menerima pekerjaan lebih banyak dari yang seharusnya atau menyetujui ajakan yang sebenarnya sama sekali tidak ingin dihadiri, hampir semua orang pernah mengalami kesulitan untuk mengatakan 'tidak'. Namun, mengapa kata sederhana yang hanya terdiri dari satu suku kata itu terasa begitu berat untuk diucapkan?
Hubungan dan interaksi antarmanusia sangat bergantung pada prinsip timbal balik. Oleh karena itu, banyak orang merasa bahwa menolak permintaan orang lain dapat mengancam hubungan yang sudah terjalin. Menurut profesor manajemen di University of Waterloo, Kanada, Dr. Vanessa Bohns salah satu kebutuhan paling mendasar manusia adalah memiliki koneksi sosial dan merasa menjadi bagian dari suatu kelompok.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Mengatakan 'tidak' terasa seperti ancaman bagi hubungan dan rasa keterhubungan yang kita miliki dengan orang lain," ujarnya kepada The Wall Street Journal.
Dalam upaya untuk diterima dan disukai lingkungan sekitar, banyak orang khawatir bahwa penolakan akan membuat mereka dijauhi. Ketakutan untuk mengatakan 'tidak' juga sering muncul karena keinginan menghindari konflik atau konfrontasi. Selain itu, banyak orang tidak ingin mengecewakan orang lain atau melukai perasaan mereka.
Di sisi lain, budaya yang berkembang saat ini juga turut berperan. Kita hidup dalam budaya yang seolah mengagungkan kata 'ya'. Konselor dan pelatih karier di Los Angeles, Dara Blaine mengatakan kepada The New York Times bahwa orang yang dianggap sukses sering kali adalah mereka yang selalu siap menerima setiap kesempatan yang datang.
Budaya ini membuat banyak orang percaya bahwa mengatakan 'tidak' akan menghambat kemajuan hidup dan karier mereka. Akibatnya, tidak sedikit yang menganggap bekerja tanpa henti sebagai sesuatu yang normal bahkan perlu dilakukan.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Ketika seseorang terus menerima semua pekerjaan tanpa pernah menolak, lambat laun mereka bisa mengalami kelelahan yang justru menurunkan produktivitas dan kualitas kerja.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Justru ketika seseorang belajar mengatakan 'tidak', saya sering melihat karier mereka berkembang lebih pesat," kata Blaine.
Menariknya, perempuan cenderung lebih sering mengalami kesulitan untuk mengatakan 'tidak'. Alasannya beragam, mulai dari tidak ingin membuat orang lain terutama laki-laki kesal, hingga berusaha menjaga perasaan atau ego orang yang tidak ingin mereka ajak berkencan.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, perempuan sering menerima pesan yang saling bertentangan sejak kecil, seperti 'katakan tidak, tetapi tetap harus peka terhadap perasaan orang lain'. Mereka juga dibesarkan dengan nilai bahwa kebutuhan dan perasaan orang lain sering kali harus didahulukan dibandingkan kebutuhan diri sendiri.

5 hours ago
2














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3225899/original/035012600_1599019411-photo-1522844990619-4951c40f7eda__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6590892/original/028812500_1779430402-WhatsApp_Image_2026-05-22_at_09.39.34.jpeg)