Korea Selatan Terancam 'Gelap Gulita' Imbas Perang, Warga Diminta Hemat Listrik dan Kurangi Berkendara

2 days ago 5

Selasa, 21 April 2026 - 14:00 WIB

Jakarta, VIVA Korea Selatan tampaknya mulai bersiap menghadapi kemungkinan berakhirnya kehidupan modern. Hal ini tak lepas dari krisis energi global yang dipicu perang antara Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS). 

Siapa sangka, krisis tersebut menempatkan negara maju seperti Korea Selatan sebagai salah satu yang paling rentan. Negara dengan ekonomi terbesar ke-12 di dunia itu sangat bergantung pada impor energi, sementara jalur pasokan utama minyak dan gas mereka terganggu akibat konflik di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama ini, sekitar 70 persen pasokan minyak mentah Korea Selatan dan 20 persen gas alam cair (LNG) berasal dari kawasan Teluk, yang melalui Selat Hormuz. Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya bisa sangat besar bagi negara yang memenuhi 90 persen kebutuhan energinya dari impor.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, bahkan menyebut konflik antara AS dan Iran sebagai situasi yang menyerupai perang bagi rakyat Korea. Ia mengatakan bahwa meskipun Selat Hormuz kembali dibuka, pemulihan pasokan energi tidak akan berlangsung cepat. 

Pemerintah pun telah menyiapkan dana sebesar 26 triliun won Korea Selatan untuk memastikan negaranya menjadi prioritas dalam pengiriman minyak ketika pasokan kembali berjalan normal.

Meski di pusat kota Seoul kehidupan masih terlihat normal dengan jalanan ramai, papan reklame yang terang benderang, dan sekitar 16.000 gedung tinggi tetap menyala, pemerintah diam-diam mulai menyiapkan langkah darurat.

Salah satu kebijakan yang sudah diterapkan adalah larangan bagi pegawai negeri untuk menggunakan mobil pribadi satu hari kerja setiap minggu. Langkah ini dilakukan demi menghemat pasokan bensin, apalagi harga bahan bakar di SPBU sudah melonjak lebih dari 20 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Akibatnya, jutaan warga Seoul kini beralih menggunakan kereta bawah tanah. Bahkan, beberapa sopir taksi mengaku mempertimbangkan berhenti bekerja karena biaya bahan bakar yang terus melonjak menggerus pendapatan mereka.

Tak hanya itu, produk berbahan dasar minyak juga mulai dijatah. Kantong sampah menjadi salah satu barang yang mulai langka. Pemerintah juga meminta masyarakat hanya mengisi daya mobil listrik dan ponsel pada siang hari serta mempertimbangkan untuk mempersingkat waktu mandi agar beban listrik nasional berkurang.

Halaman Selanjutnya

Dalam rencana 12 poin yang dirilis pemerintah, masyarakat juga diminta menjalankan alat elektronik seperti mesin cuci dan vacuum cleaner hanya pada akhir pekan. Bersepeda juga dianjurkan sebagai pengganti kendaraan pribadi.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |