Jakarta, VIVA – Krisis energi global mulai menimbulkan dampak nyata di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah negara mengambil langkah darurat untuk mengantisipasi potensi kekurangan bahan bakar setelah jalur pengiriman minyak dunia terganggu akibat konflik di Timur Tengah.
Penutupan jalur pelayaran utama di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute paling penting bagi perdagangan minyak global, membuat pemerintah dan pelaku bisnis di kawasan Asia Tenggara bersiap menghadapi kemungkinan krisis energi yang lebih dalam.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Langkah antisipasi mulai terlihat di berbagai negara. Di Filipina, pemerintah memutuskan menerapkan sistem kerja empat hari dalam seminggu untuk sebagian kantor pemerintah guna menghemat penggunaan energi.
Sementara itu, pemerintah di Thailand dan Vietnam mendorong masyarakat untuk bekerja dari rumah dan membatasi perjalanan. Di Myanmar, pemerintah bahkan menerapkan kebijakan hari berkendara bergantian untuk mengurangi konsumsi bahan bakar di sektor transportasi.
Langkah-langkah tersebut diambil di tengah kekhawatiran gangguan pasokan minyak global yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Ekonom dari Asia Decoded yang berbasis di Singapura, Priyanka Kishore, mengatakan langkah tersebut merupakan upaya awal untuk menekan dampak krisis energi.
“Mereka berusaha mengelola situasi pasokan bahkan sebelum dampaknya benar-benar terasa,” kata Kishore, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Jumat, 13 Maret 2026.
Meskipun beberapa negara Asia Tenggara memiliki sumber energi fosil, kawasan ini tetap sangat bergantung pada impor minyak dan gas. Sebagian besar pasokan tersebut melewati Selat Hormuz.
Data dari US Energy Information Administration menunjukkan sekitar 84 persen minyak mentah dan 83 persen gas alam cair yang melewati Selat Hormuz pada 2024 dikirim ke Asia. Negara-negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan menyerap hampir 70 persen pengiriman minyak tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Gangguan rantai pasokan energi juga menyoroti keterbatasan cadangan energi di kawasan Asia Tenggara. Vietnam misalnya berencana membeli sekitar 4 juta barel minyak mentah dari negara di luar Timur Tengah. Namun jumlah tersebut hanya cukup untuk sekitar enam hari konsumsi energi nasional.
Peneliti dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis, Sam Reynolds, mengatakan situasi ini membuat Vietnam berisiko menghadapi kekurangan bahan bakar jika pasokan baru tidak segera datang.
Halaman Selanjutnya
Cadangan energi di beberapa negara juga relatif terbatas. Indonesia diperkirakan hanya memiliki cadangan bahan bakar sekitar 21 hingga 23 hari.

3 days ago
5











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)



