Krisis Selat Hormuz Dinilai Bisa Jadi Titik Balik Dunia, Era Dominasi Minyak Disebut Mulai Memudar

2 hours ago 1

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:06 WIB

Jakarta, VIVA – Krisis penutupan Selat Hormuz selama lebih dari 100 hari dinilai menjadi salah satu peristiwa yang berpotensi mengubah arah pasar energi global. Meski jalur pelayaran strategis itu kini telah kembali dibuka dan distribusi minyak serta gas kembali berjalan normal, dampak jangka panjangnya diperkirakan akan memengaruhi kebijakan energi banyak negara.

Pandangan tersebut disampaikan kolumnis Reuters, Ron Bousso, yang menilai krisis di Timur Tengah telah menjadi ujian besar bagi sistem energi modern yang selama ini bergantung pada rantai pasok global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026, penutupan Selat Hormuz sempat memicu kekhawatiran besar. Jalur tersebut selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Meski pasar energi mampu beradaptasi melalui perubahan arus pasokan dan pola permintaan, Bousso menilai kondisi tersebut hanya bersifat sementara.

Menurutnya, cadangan energi global terus terkuras selama penutupan berlangsung dan dunia nyaris mencapai titik kritis sebelum akhirnya Selat Hormuz kembali dibuka.

Disebut Mirip Embargo Minyak 1973

Bousso membandingkan krisis Hormuz dengan embargo minyak Arab pada 1973 yang menjadi salah satu titik balik dalam sejarah industri energi dunia.

Saat itu, negara-negara Arab anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menghentikan ekspor minyak ke Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang mendukung Israel dalam Perang Yom Kippur.

Embargo tersebut membuat harga minyak melonjak hingga empat kali lipat dalam waktu singkat dan memicu lonjakan inflasi global.

Dampaknya tidak membuat dunia meninggalkan bahan bakar fosil, tetapi mendorong banyak negara menggunakan energi secara lebih efisien, mengembangkan sumber energi domestik, serta membentuk kebijakan ketahanan energi yang lebih kuat.

Salah satu hasilnya adalah pembentukan Badan Energi Internasional (IEA) pada 1974 untuk mengoordinasikan respons terhadap gangguan pasokan energi global.

Asia Mulai Ubah Strategi Energi

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Bousso, krisis Hormuz kali ini juga mulai mendorong perubahan serupa, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.

Selama penutupan Selat Hormuz, sejumlah negara menerapkan langkah-langkah darurat seperti pengurangan hari kerja menjadi empat hari, kebijakan bekerja dari rumah, hingga pembatasan perjalanan udara dan kendaraan.

Halaman Selanjutnya

Beberapa sektor industri bahkan terpaksa menghentikan sebagian kapasitas produksinya akibat keterbatasan pasokan energi.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |