Mengingtip Potensi Bisnis Beras Fortifikasi Komersial, Ritel hingga Industri Didorong Ekspansi Pasar

2 hours ago 1

Rabu, 24 Juni 2026 - 21:51 WIB

Jakarta, VIVA – Pasar beras fortifikasi di Indonesia dinilai tengah memasuki fase pertumbuhan baru yang krusial. Komoditas yang semula dipandang sebagai program kesehatan masyarakat (public health) kini bertransformasi menjadi sektor ekonomi potensial yang mampu mentransformasi industri penggilingan, memperkuat rantai pasok pertanian, serta membuka pasar di tingkat nasional.

Pelaku usaha ritel, industri, hingga pelaku usaha penggilingan meyakini ekosistem beras yang diperkaya gizi ini telah memiliki fundamental kokoh untuk masuk ke pasar komersial. Sejumlah tantangan yang tersisa saat ini mencakup percepatan adopsi konsumen, perluasan skala distribusi regional, serta penciptaan struktur harga yang lebih efisien.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Dasep Suryanto menyatakan sektor ritel siap mendukung ekspansi pasar komersial tersebut, terlepas dari adanya disparitas harga yang saat ini masih memfragmentasi pasar.

"Kami di lini hilir melihat adanya kebingungan pasar karena belum tersedianya referensi harga yang jelas. Di sisi lain, kita ingin menghadirkan produk bergizi yang tetap terjangkau bagi konsumen," ujar Dasep dalam diskusi bertajuk 'Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in the Commercial Market', dikutip dari keterangannya, Rabu, 24 Juni 2026

Saat ini, beras fortifikasi atau beras yang diperkaya gizi di jaringan ritel modern mengusung harga hampir 20-30% di atas harga beras reguler. Dasep memperingatkan bahwa tanpa adanya standarisasi harga dan efisiensi jalur distribusi, kesenjangan harga yang lebar ini berisiko memicu distorsi pasar.

Untuk menstabilkan pasar, APRINDO menekankan pentingnya implementasi tiga strategi utama, yakni kejelasan dan kepastian regulasi, efisiensi distribusi langsung dari penggilingan atau RMU ke peritel, serta edukasi konsumen secara berkelanjutan dengan mengoptimalkan jaringan ritel nasional.

Inovasi kemasan berukuran lebih kecil, seperti ukuran 1 kilogram dan 2,5 kilogram, dinilai berpotensi menurunkan hambatan finansial bagi konsumen ritel sekaligus memperdalam penetrasi pasar. Di sisi lain, psikologi konsumen masih menjadi tantangan tersendiri; banyak konsumen yang secara otomatis mengidentifikasi harga tinggi dengan kualitas yang lebih baik, sehingga mengaburkan nilai fungsional gizi standar dari beras fortifikasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan kekuatan jaringan ritel yang tersebar di seluruh Indonesia, APRINDO siap mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjembatani kesenjangan informasi tersebut. “Tujuan akhirnya adalah menjamin akses masyarakat terhadap beras bergizi dengan harga terjangkau. Oleh karena itu, aspek regulasi, distribusi, dan edukasi harus berjalan secara bersamaan,” tegas Dasep.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |