Menilik Perjalanan Ramuan Herbal Menjadi Fitofarmaka, Ukur Khasiat Tanaman Obat Secara Ilmiah

5 days ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Mengubah ramuan herbal menjadi fitofarmaka memerlukan penelitian panjang. Bukan hanya soal stabilitas, tapi khasiat dan kemananannya pun harus diukur secara ilmiah.

Fitofarmaka adalah obat herbal terstandar (OHT) yang sudah melalui uji praklinik (pada hewan percobaan) dan uji klinik (pada manusia) di mana bahan baku dan produk jadinya sudah distandarisasi.

Farmakolog molekuler, Prof. Raymond Tjandrawinata tak memungkiri, Indonesia sejak lama dikenal memiliki warisan jamu dan ramuan herbal yang mengakar kuat dalam sejarah.

Relief Candi Rimbi dari era Majapahit hingga naskah Serat Centhini mencatat ratusan jenis tanaman obat dan puluhan resep jamu untuk berbagai keluhan kesehatan. Namun, dalam dunia medis modern, khasiat ramuan tradisional kerap berada di wilayah abu-abu—diakui secara empiris, tetapi belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah.

Misalnya meniran (Phyllanthus niruri L.), tanaman obat yang telah lama digunakan masyarakat dan tercatat dalam berbagai naskah historis. Mulai dari catatan herbalist Belanda awal abad ke-20 berjudul Bab Tetuwuhan ing Tanah Hindiya Miwah Dayanipun Kangge Jampi hingga manuskrip Jawa berjudul Dayasarana yang diakui oleh UNESCO.

Pengetahuan turun-temurun kemudian menjadi pondasi riset modern, di mana meniran diteliti secara biomolekuler, distandardisasi, dan diuji secara praklinik serta klinik.

Dari proses inilah lahir produk imunomodulator berbasis bahan alam dengan khasiat yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Dalam proses penelitiannya, para saintis mengalami banyak tantangan yang harus dipecahkan hingga Obat Modern Alami Integratif (OMAI) ini dirasakan manfaatnya oleh pasien,” kata Raymond dalam keterangan pers, Kamis (22/1/2026).

Penelitian Obat Herbal Sarat Tantangan Ilmiah

Profesor yang disebut sebagai pelopor pengembangan obat modern asli Indonesia itu mengatakan bahwa penelitian obat herbal sarat akan tantangan ilmiah.

“Di balik lahirnya obat-obat berbasis bahan alam, terdapat perjalanan riset yang sarat tantangan ilmiah dan ketekunan.”

Tantangan tersebut tidak hanya terletak pada pemilihan bahan, tetapi pada upaya menerjemahkan kompleksitas alam menjadi terapi yang terstandar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Penelitian herbal dilakukan Raymond melalui Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS). Dalam keterangan yang sama, Group Research Innovation & Invention Manager DLBS, Laurentius Haryanto, S.T., M.Si. menjelaskan beragam tantangan yang dihadapi saat proses penelitian produk obat modern alami integratif.

Ia mencontohkan, tantangan utama pada pengembangan salah satu obat fitofarmaka antidiabetes. Obat ini berbahan kayu manis dan tanaman bungur.

Tantangannya adalah bagaimana meramu kayu manis dan bungur agar dapat diekstraksi secara bersamaan dan menghasilkan efek sinergis sesuai khasiat yang dituju. Padahal, kedua tanaman ini merupakan dua bahan dengan karakter kimia berbeda.

Proses ini menuntut pendekatan ilmiah yang presisi agar potensi masing-masing bahan tidak saling meniadakan, melainkan saling memperkuat.

Tantangan Keamanan

Contoh tantangan lain adalah ketika mengembangkan fitofarmaka untuk obat yang membantu meringankan gangguan lambung. Dalam pengembangan obat ini, fokusnya adalah tantangan keamanan.

Kayu manis diketahui mengandung coumarin, senyawa yang berpotensi toksik jika tidak dikendalikan. Tantangannya adalah menurunkan kadar coumarin hingga berada dalam batas aman, tanpa menghilangkan fraksi bioaktif yang berperan penting dalam memberikan khasiat terapeutik yang diharapkan.

Sedangkan, pada pengembangan obat batuk berbahan alam, kompleksitas muncul dari upaya meramu empat bahan sekaligus yakni mahkota dewa, saga, legundi, dan jahe. Masing-masing bahan ala mini memiliki profil senyawa aktif dan karakteristik ekstraksi yang berbeda hingga menjadi produk yang dapat membantu meredakan batuk dan sakit tenggorokan.

Tantangan ini menuntut formulasi yang cermat agar kombinasi bahan tersebut tetap stabil, konsisten, dan memberikan manfaat terapeutik yang optimal.

Tantangan Pengembangan Obat Berbahan Hewan

Tantangan yang tak kalah unik ditemui Raymond saat mengembangkan obat fitofarmaka yang dapat membantu melancarkan sirkulasi darah.

Tantangan dimulai dari pencarian spesies cacing tanah untuk bahan baku yang paling sesuai untuk khasiat yang ditargetkan. Obat ini dikembangkan dari fraksi bioaktif cacing tanah jenis Lumbricus rubellus.

Tantangan berlanjut pada proses budidaya serta pengolahan bahan aktif yang sebagian besar berupa protein, sehingga diperlukan teknologi dan kontrol mutu yang ketat untuk menjaga stabilitas, keamanan, dan efektivitas produk hingga sampai ke pasien.

“Tantangan tersebut berhasil dipecahkan bahkan terus mengalami perbaikan dan memberikan kontribusi lebih pada kesehatan pasien dan berkontribusi pada aspek ekonomi,” kata Director of Business Development and Scientific Affairs Dexa Medica itu.

Dia menambahkan, obat modern alami integratif atau OMAI terbukti secara klinis mampu menjadi substitusi obat kimia impor. Langkah ini sejalan dengan tantangan kemandirian obat nasional. Hingga kini, sekitar 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih bergantung pada impor, ironi bagi negara dengan biodiversitas melimpah.

Produk-produk obat berbahan alam asli Indonesia pun telah menembus pasar global. Termasuk Nigeria, Kamboja, Singapura, Filipina, Myanmar, Vietnam, Mongolia, hingga Timor Leste.

”Penerimaan mereka terhadap OMAI itu lebih tinggi daripada di Indonesia. Ini yang sangat disayangkan,” tutup Raymond.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |