Menkes Ungkap Ketimpangan Penghasilan Dokter: Ada yang Miliaran, Ada Seperti Tukang Parkir

3 weeks ago 7

Kamis, 25 Juni 2026 - 13:28 WIB

Jakarta, VIVA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menyiapkan kajian terkait pemberian insentif bagi dokter umum dan dokter gigi yang bertugas di Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK). 

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah sebelumnya telah menjalankan program insentif untuk dokter spesialis yang bertugas di berbagai daerah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Untuk masalah insentif, kita sudah berhasil memberikan 30 juta insentif per bulan untuk 1.370 dokter spesialis. Sekarang kita sedang mengkaji apakah kita bisa melakukan hal yang sama untuk dokter umum dan dokter gigi di daerah-daerah yang DTPK,"* kata Budi dalam rapat bersama DPR di Jakarta, Kamis 25 Juni 2026.

Budi juga memaparkan sejumlah persoalan yang masih dihadapi tenaga kesehatan di Indonesia. Mulai dari tingginya beban kerja, distribusi tenaga medis yang belum merata, ketimpangan pendapatan, perbedaan jenjang karier antara layanan primer dan rumah sakit, hingga persoalan perundungan.

Menurut Budi, kesenjangan penghasilan di sektor kesehatan masih sangat mencolok. Ia menilai terdapat perbedaan yang jauh antara tenaga medis yang memperoleh pendapatan sangat tinggi dengan mereka yang menerima penghasilan minim.

"Ada yang dapatnya ordernya sebulan miliaran, ada yang dapat sebulan, ada yang kita sering dengar seperti tukang parkir yang ratusan ribu. Ini adalah salah satu bidang di mana gapnya tinggi sekali,"* ujarnya.

Ia juga menyoroti perbedaan tunjangan dokter spesialis di sejumlah daerah. Sebagai contoh, dokter spesialis di Kabupaten Bone menerima tunjangan sekitar Rp3 juta, sedangkan di Mahakam Ulu nilainya bisa mencapai Rp80 juta.

Melihat besarnya ketimpangan tersebut, Kementerian Kesehatan berencana menggandeng sejumlah kementerian terkait untuk mencari solusi yang lebih menyeluruh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain persoalan pendapatan, Budi menilai distribusi tenaga medis masih menjadi tantangan besar. Ia mengungkapkan banyak dokter muda belum mendapatkan kesempatan bekerja karena posisi yang tersedia di rumah sakit masih ditempati dokter-dokter senior.

"Kalo kita bisa mendistribusikan ini dengan lebih baik. Itu sebabnya kan ada dokter yang Surat Izin Praktek (SIP)nya 3, ada dokter muda mau masuk gak bisa karena SIP-nya sudah terisi oleh dokter-dokter yang lama. Padahal dokter-dokter yang lama itu mungkin kerjanya gak perlu di rumah sakitnya," katanya.

Halaman Selanjutnya

Menurut Budi, kondisi tersebut turut memicu ketimpangan penghasilan yang sangat besar. Bahkan, dokter senior disebut dapat memperoleh pendapatan hingga 3.000 kali lebih tinggi dibanding dokter yang baru memulai karier.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |