Mobil Listrik China Makin Merajalela di ASEAN

5 hours ago 1

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:00 WIB

Jakarta, VIVA – Dominasi mobil listrik buatan China di pasar global terus menguat. Kali ini, kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu tujuan utama ekspor, seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik di sejumlah negara ASEAN.

Berdasarkan data lembaga riset energi Ember, dikutip VIVA Otomotif Kamis 25 Juni 2026, nilai ekspor mobil listrik China mencapai rekor baru sebesar US$9,2 miliar atau sekitar Rp149 triliun pada Mei 2026. Nilai tersebut meningkat 49 persen dibanding periode yang sama tahun lalu dan melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada April.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama Mei, China mengekspor sekitar 448 ribu mobil penumpang listrik ke berbagai negara. Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 279 ribu kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle atau BEV) dan 169 ribu kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).

Asia Tenggara menjadi salah satu pasar yang mengalami pertumbuhan paling pesat. Ember mencatat nilai ekspor mobil listrik China ke negara-negara ASEAN mencapai US$1,2 miliar pada Mei, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

Thailand menjadi negara tujuan terbesar dengan impor lebih dari 36 ribu mobil listrik asal China dalam satu bulan. Sementara itu, Filipina juga mencatat lonjakan dengan jumlah impor melampaui 33 ribu unit.

Pertumbuhan serupa terjadi di Kamboja dan Laos. Kedua negara tersebut membukukan rekor impor mobil listrik setelah pemerintah masing-masing memberikan berbagai insentif untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik.

Kamboja, misalnya, memangkas bea masuk mobil listrik berbasis baterai menjadi nol persen sejak akhir Maret. Sementara tarif impor kendaraan plug-in hybrid juga diturunkan dari 35 persen menjadi 7 persen untuk mendorong pertumbuhan pasar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di Laos, pemerintah mengurangi biaya registrasi dan layanan kendaraan listrik serta mewajibkan perusahaan transportasi memiliki armada kendaraan listrik minimal 10 persen pada akhir 2026. Negara tersebut juga menghentikan sementara impor mobil bermesin pembakaran internal hingga akhir tahun sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Menurut analis energi Asia dari Ember, Lam Pham, kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah turut mempercepat peralihan masyarakat ke kendaraan listrik. Kondisi tersebut dinilai membuat kendaraan listrik semakin menarik karena menawarkan biaya operasional yang lebih rendah sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar.

Halaman Selanjutnya

"Krisi energi saat ini kembali menunjukkan bahwa elektrifikasi menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan ketahanan energi, mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar, serta menekan biaya transportasi dalam jangka panjang," ujar Lam Pham.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |