Muktamar Ke-35 NU Dinilai Harus Pilih Rais Aam Berdasarkan Keulamaan

1 week ago 2

Senin, 6 Juli 2026 - 12:24 WIB

Jakarta, VIVA – HRM Khalilur R Abdullah Sahlawy atau Gus Lilur menilai pergelaran Muktamar ke-35 NU merupakan momen penting bagi organisasi memasuki abad kedua perjalanannya. Ia mengatakan, forum tersebut tidak hanya menentukan kepemimpinan baru, tetapi juga arah keulamaan NU di masa depan.

"Pada 1-5 Agustus 2026, Nahdlatul Ulama akan menggelar Muktamar Ke-35. Ini bukan muktamar biasa. Inilah muktamar pertama yang digelar NU pada abad keduanya; muktamar pertama setelah organisasi para kiai ini melewati usia seratus tahun," kata Gus Lilur dalam keterangan tertulis, Senin, 6 Juli 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menambahkan bahwa sosok Rais Aam PBNU harus memenuhi kriteria sebagai pemimpin tertinggi keagamaan di lingkungan NU.

"Muktamar ke-35 bukan muktamar biasa. Ini adalah muktamar pertama NU pada abad keduanya. Karena itu, yang harus dijawab bukan hanya siapa yang dipilih, tetapi siapa yang memang layak menjadi Rais Aam," ujar Gus Lilur.

Gus Lilur menjelaskan Rais Aam  merupakan jabatan penting bagi seluruh warga NU. Maka itu, ia berharap agar Rais Aam nantinya tidak terlibat ke dalam politik.

Ia menegaskan bahwa NU sejak awal didirikan sebagai jam'iyyah diniyyah, yakni organisasi keagamaan yang menjadi wadah tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang telah berkembang jauh sebelum NU berdiri pada 1926.

"Rais Aam bukan sekadar ketua organisasi. Ia adalah imam bagi tradisi keagamaan yang dianut jutaan warga nahdliyin. Karena itu, standar yang digunakan tidak boleh sekadar pertimbangan politik," katanya.

Gus Lilur menjelaskan bahwa NU dibangun di atas tiga pilar utama, yakni fikih yang bermazhab, akidah Asy'ariyah-Maturidiyah, dan tasawuf Imam Al-Ghazali serta Imam Al-Junaid Al-Baghdadi. Menurutnya, seorang Rais Aam harus memiliki penguasaan mendalam terhadap ketiga aspek tersebut.

Selain penguasaan ilmu agama, ia menilai calon Rais Aam juga harus memiliki integritas yang tercermin dalam prinsip Mabadi Khaira Ummah, seperti kejujuran, amanah, keadilan, tolong-menolong, dan istiqamah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Para pendiri NU telah meletakkan standar integritas yang tinggi. Nilai-nilai itu tentu harus lebih dahulu melekat pada pemimpin tertinggi organisasi," ujarnya.

Gus Lilur juga mengingatkan bahwa NU pernah mengalami pengalaman panjang dalam politik praktis sebelum akhirnya kembali ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo tahun 1984.

Halaman Selanjutnya

Menurutnya, keputusan kembali ke Khittah menjadi penegasan bahwa NU harus menjaga jarak dari politik kekuasaan dan tetap menjalankan perannya sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |