Orang RI Lagi Ngerem Beli Mobil Malah Pilih Borong Emas

8 hours ago 3

Sabtu, 7 Maret 2026 - 03:04 WIB

Jakarta, VIVA - Ketidakpastian kondisi ekonomi global mulai memengaruhi perilaku belanja masyarakat Indonesia, termasuk dalam keputusan membeli kendaraan. Alih-alih mengalokasikan dana untuk konsumsi besar seperti mobil, sebagian masyarakat kini memilih menahan pengeluaran dan mengalihkannya ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman, seperti emas.

Pengamat ekonomi Joshua Pardede menilai fenomena tersebut berkaitan erat dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, khususnya pada kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung pasar otomotif nasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kalau kita ibaratkan ekonomi seperti mobil, sebenarnya mesinnya sudah menyala, tapi belum terlalu digas. Artinya, aktivitas ekonomi sudah berjalan, tetapi belum sepenuhnya pulih,” ujar Joshua di Kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat 6 Maret 2026.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pemulihan tersebut belum dirasakan merata oleh masyarakat, terutama kelas menengah yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat biasanya menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial, khususnya untuk pembelian barang bernilai besar seperti mobil atau properti.

Joshua menjelaskan bahwa ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik dan fluktuasi ekonomi dunia, turut memengaruhi psikologi konsumen. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat memilih menahan belanja dan mengamankan dana mereka.

“Saat situasi global tidak pasti, banyak orang akhirnya menahan uangnya. Mereka menunda pembelian barang-barang besar seperti mobil atau properti,” kata dia.

Di sisi lain, dana yang sebelumnya berpotensi digunakan untuk konsumsi justru dialihkan ke instrumen investasi yang dinilai lebih aman, salah satunya emas. Instrumen ini dianggap memiliki daya tahan yang lebih baik di tengah gejolak ekonomi.

Fenomena ini, lanjut Joshua, turut memengaruhi dinamika pasar otomotif dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan kendaraan memang masih bergerak, tetapi tidak seagresif periode sebelum pandemi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski demikian, ia menilai prospek industri otomotif nasional masih tetap positif dalam jangka menengah hingga panjang. Hal tersebut didukung oleh potensi pasar Indonesia yang masih besar.

Salah satu indikatornya adalah tingkat kepemilikan mobil yang masih relatif rendah dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini membuka peluang pertumbuhan bagi industri otomotif di masa depan.

Halaman Selanjutnya

Joshua memperkirakan penjualan mobil nasional tetap akan menunjukkan perbaikan secara bertahap seiring dengan pemulihan ekonomi. Namun, kenaikannya kemungkinan tidak terjadi secara drastis dalam waktu dekat.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |