Panglima Jilah Bantah Orang Berladang Jadi Penyebab Karhutla di Kalimantan

12 hours ago 6

Jumat, 28 Agustus 2026 - 22:13 WIB

Jakarta, VIVA – Pemimpin besar pasukan merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) dari suku Dayak, Panglima Jilah menyambangi Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.

Pertemuannya dengan Kepala Negara membahas terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kalimantan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Panglima Jilah membantah anggapan yang aktivitas berladang masyarakat adat memicu karhutla di Kalimantan Barat. Panglima Jilah menjelaskan masyarakat adat tidak membuka lahan gambut untuk menanam padi. 

Aktivitas berladang masyarakat dilakukan di kawasan lahan mineral dengan menerapkan kearifan lokal serta pengawasan yang ketat.

"Di Kalimantan Barat itu karhutla itu sebenarnya sudah sering terjadi, tetapi yang menjadi pemikiran kita itu peladang itu disalahkan. Jadi peladang itu dengan perkebunan itu kadang-kadang bersamaan waktunya. Akhirnya peladang yang disalahkan. Tetapi sebenarnya orang berladang tidak di lahan gambut. Orang berladang itu di lahan mineral," kata Panglima Jilah.

Prabowo Terima Panglima Jilah di Istana Merdeka

Photo :

  • Biro Pers Sekretariat Presiden

Panglima Jilah mengatakan, masih banyak pihak yang belum memahami pola pertanian serta kehidupan masyarakat adat di Kalimantan. Hal ini yang memunculkan anggapan peladang adat menjadi pemicu karhutla.  

"Akhirnya menuduh peladang yang menjadi sumber asapnya. Tetapi bukan. Orang berladang tidak akan mungkin mau menanam padinya ke tempat yang gambut. Itu saja logikanya," katanya. 

Menurut Panglima Jilah, tradisi berladang masyarakat adat sudah dilakukan sejak ribuan tahun lalu. Dengan demikian, aktivitas tersebut sudah dilakukan jauh sebelum perusahaan perkebunan berskala besar berkembang di Kalimantan.

Dalam praktiknya, masyarakat adat juga mengawasi proses pembukaan lahan menggunakan untuk memastikan api tetap terkendali dan tidak menjalar ke kawasan hutan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ya kita masyarakat adat itu memang selalu monitoring Pak. Jadi kalau kita membakar di mana lahan ladang kita dibakar, di situ lah kita yang akan monitoring-nya. Dan itu tidak pernah terjadi namanya ada kebakaran hutan. Sebelum adanya perkebunan ya, di Kalimantan itu sudah ada namanya berladang. Dari zaman dulu, ribuan tahun yang lalu bahkan," jelasnya.

Maka itu, Panglima Jilah mengatakan, ketentuan yang melarang pembukaan lahan dengan cara membakar seharusnya ditujukan kepada aktivitas perkebunan yang dilakukan korporasi, bukan praktik berladang masyarakat adat yang mengikuti kearifan lokal.

Halaman Selanjutnya

Panglima Jilah juga menyebut Presiden Prabowo mendukung keberadaan masyarakat adat dan peladang.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |