Pembiayaan Pinjaman Usaha Anjlok, UMKM Masih Pilih Bank Emok?

2 weeks ago 9

Kamis, 26 Februari 2026 - 10:40 WIB

Jakarta, VIVA – Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Indonesia menghadapi kesenjangan pembiayaan yang kritis dan semakin melebar. Pembiayaan formal menunjukkan tren penurunan seiring pelaku usaha cenderung memililih pinjaman informal atau yang dikenal dengan bank emok

Bank emok bukan hal asing di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Bank emok masih dilirik masyarakat karena menawarkan akses pembiayaan yang cepat, mudah, dan minim persyaratan, terutama bagi pelaku usaha mikro yang sulit memenuhi standar perbankan formal seperti agunan, dokumen keuangan, dan riwayat kredit.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kedekatan sosial antara pemberi pinjaman dan peminjam juga menciptakan rasa percaya, sehingga prosesnya terasa lebih sederhana dan tidak mengintimidasi. Di tengah kebutuhan modal yang mendesak dan keterbatasan akses ke lembaga keuangan resmi, bank emok menjadi solusi praktis meski memiliki risiko bunga lebih tinggi.

Dalam diseminasi Laporan Barometer ketiga: Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2025, Mastercard Center for Inclusive Growth dan Mercy Corps Indonesia mencatat tingkat pengambilan kredit formal terus menurun setidaknya dalam tiga tahun terakhir.  

Pembiayaan kredit formal menurun dari 33 persen pada 2023 menjadi 27 persen pada 2024 dan kembali turun tajam menjadi hanya 20 persen pada 2025.  Penurunan ini mencerminkan masih besarnya hambatan yang dihadapi pelaku UMKM untuk mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan resmi.

Sejumlah faktor menjadi penyebab utama, mulai dari tingginya suku bunga, persyaratan jaminan yang ketat, hingga hambatan budaya yang membuat pelaku usaha enggan berurusan dengan sistem keuangan formal. Akibatnya, banyak pelaku UMKM memilih jalur alternatif, termasuk memanfaatkan pinjaman informal yang lebih mudah diakses meski berisiko lebih besar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi ini terlihat jelas di kalangan pelaku usaha  perempuan. Laporan yang diinisiasi Mastercard melaporkan hanya 16 persen yang mengakses kredit formal lebih rendah. Sementara itu, usaha yang dipimpin laki-laki sebesar 20 persen dan usaha yang dipimpin bersama sebesar 26 persen. 

Senior Vice President Social Impact Mastercard Center for Inclusive Growth, Subhashini Chandran, mengingatkan adanya kesenjangan baru yang berpotensi memperlebar ketimpangan. Ia juga menyoroti digitalisasi yang belum sepenuhnya diimbangi kesiapan pelaku usaha. 

Halaman Selanjutnya

“Kesenjangan dalam kesadaran AI, keamanan digital, dan akses dukungan bisnis berisiko semakin melebar jika tidak ditangani secara kolektif,” ujar Subhashini dalam acara Laporan Mastercard Strive 2026, di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |