Pemerintah Diingatkan Ada Dampak Berantai Kenaikan BBM Non-Subsidi Terhadap Ekonomi Nasional

1 week ago 4

Selasa, 5 Mei 2026 - 23:24 WIB

Jakarta, VIVA – Tren kenaikan harga BBM non-subsidi yang dinilai mulai memberikan tekanan nyata terhadap industri jadi sorotan. Khususnya ke sektor produktif dan berpotensi memicu dampak lanjutan terhadap perekonomian nasional.

Anggota Komisi XII DPR RI, Shanty Alda Nathalia,  meniilai kenaikan harga energi tersebut tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga berisiko menjalar ke berbagai lini aktivitas ekonomi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan DPR RI, kami mencermati kenaikan harga BBM non-subsidi yang menunjukkan tren signifikan dan mulai memberikan tekanan langsung terhadap biaya energi di berbagai sektor produktif,” ujar Shanty dikutip dari keterangannya, Selasa, 5 Mei 2026.

Dia mengungkapkan, dampak tersebut saat ini telah dirasakan secara langsung oleh masyarakat, khususnya di sektor perikanan. Salah satu contoh nyata terjadi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Tegalsari, di mana sejumlah nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut akibat tingginya biaya operasional.

“Kondisi ini sudah terlihat nyata di Pelabuhan Perikanan Nusantara Tegalsari, Kota Tegal, di mana nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena terkendala harga Solar Non Subsidi yang mencapai sekitar Rp30.000 per liter, sehingga biaya operasional tidak lagi ekonomis dan aktivitas ekonomi pesisir terganggu,” jelasnya.

Shanty menegaskan bahwa kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian nasional, terutama melalui jalur distribusi dan harga komoditas.

“Kami menekankan perlunya kewaspadaan terhadap potensi multiplier effect terhadap ekonomi nasional, mengingat tekanan biaya energi dapat menjalar ke rantai pasok, mendorong kenaikan harga komoditas, serta berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat,” tegasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena itu, ia mendorong adanya langkah antisipatif dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan keberlangsungan aktivitas sektor produktif.

Shanty juga menekankan pentingnya kebijakan yang adaptif dan responsif terhadap dinamika harga energi global, agar dampaknya terhadap masyarakat dan pelaku usaha dapat diminimalisir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto

Airlangga: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I Tertinggi di Antara Negara G20

Airlangga memastikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61 persen di kuartal I-2026, merupakan yang tertinggi di antara sejumlah negara G20 yang telah merilis data serupa.

img_title

VIVA.co.id

5 Mei 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |