Pemred Republika Tegaskan Dua Jurnalis Indonesia ke Gaza Tak Bawa Senjata, Hanya Obat hingga Bantuan Kemanusiaan

3 weeks ago 12

Senin, 18 Mei 2026 - 20:06 WIB

Jakarta, VIVA – Ketegangan konflik di Gaza kembali memunculkan perhatian dunia internasional setelah dua jurnalis asal Indonesia dikabarkan ikut menjadi korban intersepsi militer Israel saat menjalankan misi kemanusiaan. Kedua jurnalis tersebut diketahui berada dalam rombongan kapal bantuan internasional menuju Palestina ketika perjalanan mereka dihentikan di perairan internasional.

Peristiwa itu menuai sorotan luas karena para relawan yang ikut dalam pelayaran disebut tidak membawa unsur militer apa pun. Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, bahkan menegaskan bahwa rombongan hanya membawa bantuan kemanusiaan bagi warga sipil Gaza yang hingga kini masih menghadapi blokade dan krisis berkepanjangan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Bukan membawa senjata, melainkan solidaritas, obat-obatan, bantuan logistik, dan suara nurani dunia untuk warga sipil Palestina yang selama berbulan-bulan menghadapi blokade, kelaparan, dan agresi tanpa henti," tuturnya dalam keterangan pada Senin, 18 Mei 2026.

Dua jurnalis yang menjadi perhatian publik adalah Bambang Noroyono alias Abeng dan Thoudy Badai. Keduanya merupakan wartawan Republika yang tergabung dalam misi pelayaran Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) bersama Global Sumud Flotilla (GSF) 2026.

Misi tersebut merupakan gerakan kemanusiaan internasional yang bertujuan mengirim bantuan untuk masyarakat Gaza. Dalam rombongan itu terdapat sembilan relawan asal Indonesia yang ikut bersama peserta dari berbagai negara lainnya.

Menurut Andi Muhyiddin, keberadaan Bambang Noroyono dan Thoudy Badai bukan hanya sebagai relawan kemanusiaan, tetapi juga menjalankan tugas jurnalistik untuk melaporkan situasi di lapangan kepada publik internasional.

“Terdapat sembilan relawan asal Indonesia, termasuk dua jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai yang menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan. Keselamatan mereka menjadi perhatian serius kami," ujarnya.

Informasi yang beredar menyebut kapal bantuan tersebut dihentikan oleh militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) saat masih berada di perjalanan menuju Gaza. Republika menyatakan tindakan intersepsi itu terjadi di wilayah perairan internasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Atas kejadian tersebut, pihak Republika menyampaikan kecaman keras dan menilai tindakan itu bertentangan dengan prinsip kemanusiaan internasional.

"Kami mengecam keras tindakan intersepsi yang dilakukan militer Zionis Israel terhadap kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional," kata Andi Muhyiddin.

Halaman Selanjutnya

Ia juga menilai penghentian kapal bantuan kemanusiaan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kebebasan sipil masyarakat dunia yang sedang membawa bantuan untuk korban konflik.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |