Jakarta, VIVA – Transformasi tubuh penyanyi Vicky Shu usai melahirkan anak keduanya sempat membuat publik bertanya-tanya. Banyak yang menduga penyanyi sekaligus ibu dua anak ini menjalani operasi potong lambung karena perubahannya yang terlihat cukup drastis. Faktanya, Vicky menjalani program manajemen berat badan berbasis medis selama 8 minggu, bukan prosedur bedah.
Perjalanan Vicky bukan tanpa hambatan. Setelah melahirkan, ia langsung menghadapi tekanan dari media sosial berupa body shaming dan mom shaming yang kerap menyasar para ibu pascapersalinan. Alih-alih menyerah, ia memilih mencari solusi yang tepat dan aman untuk tubuhnya. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Aku memilih program Halofit karena aku ingin investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik dan mentalku, bukan semata karena ingin menurunkan berat badan saja. Melalui program ini, aku mendapatkan pengawasan dari tim dokter selama 30 hari, diberikan meal plan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhku, dan mendapat terapi GLP-1, jadi nafsu makan aku lebih terkontrol dan nggak lagi lapar mata,” kata Vicky Shu dalam keterangannya, dikutip Rabu 13 Mei 2026.
“Apalagi Halofit ini bisa diakses secara online juga ya, jadi memudahkan aku yang sehari-hari sudah padat bekerja dan mengurus keluarga. Perjalanan transformasi ini ngajarin aku bahwa kita nggak harus memenuhi standar kecantikan orang lain, karena tujuan sebenarnya bukan hanya menurunkan berat badan saja, tapi justru memiliki tubuh yang sehat, dan akhirnya pun dapat berdampak pada mental yang sehat,” sambung Vicky Shu.
Selain mengikuti program tersebut, pelantun Mari Bercinta itu juga aktif berjalan kaki setiap hari dan menata ulang pola makannya secara keseluruhan.
Apa yang dialami Vicky sebenarnya mencerminkan realita jutaan orang Indonesia. Kelebihan berat badan sering kali dianggap semata akibat kurang disiplin, padahal di baliknya ada faktor genetik, hormonal, dan metabolik yang kompleks.
Data dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan hingga akhir 2025 menunjukkan bahwa satu dari tiga orang Indonesia mengalami obesitas sentral, yaitu penumpukan lemak di area perut yang meningkatkan risiko diabetes dan hipertensi. Angka ini menjadi alarm serius bagi dunia kesehatan nasional.
Halaman Selanjutnya
Kondisi ini diperparah oleh minimnya akses ke pendampingan medis. Studi Awareness, Care and Treatment in Obesity Management (ACTION) APAC yang dilakukan Novo Nordisk bersama peneliti di 9 negara Asia Pasifik pada 2022 menemukan bahwa hanya 43 persen individu dengan obesitas yang pernah mendiskusikan berat badannya dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir.

5 hours ago
1











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)
