Pengasuh Ponpes di Bali: Muktamar NU Bukan Sekedar Pilih Ketum, tapi Juga Pemimpin Visioner

3 weeks ago 23

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 18:10 WIB

Jombang, VIVA Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 dinilai tidak semestinya hanya dipandang sebagai forum pemilihan kepengurusan baru. Muktamar sebagai forum musyawarah tertinggi NU dinilai harus mampu merumuskan arah organisasi sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia yang semakin kompleks.

Pandangan tersebut disampaikan H. Ainun Ni’am, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlotul Huffadz, Tabanan, Bali. Menurutnya, Ketua Umum PBNU yang terpilih seharusnya merupakan produk dari proses Muktamar, bukan menjadi tujuan utama forum tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Maka pandangan Muktamar menjadi sempit jika dianggap sebagai sebuah seremonial pemilihan pengurusan baru, tapi harus lebih ditekankan kepada kebutuhan organisasi dan masyarakat Indonesia secara umum sehingga Ketua Umum terpilih adalah produk dan bukan tujuan dari Muktamar,” ujar Ainun dalam pers rilisnya.

Ia menilai tantangan NU saat ini jauh berbeda dengan kondisi ketika organisasi tersebut lahir pada 1926. Karena itu, dinamika perubahan dan kompleksitas persoalan masyarakat perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan figur yang akan memimpin NU ke depan.

Menurut Ainun, NU sejak awal lahir dari kepedulian para ulama dalam mengelola ekosistem pesantren. Dalam perkembangannya, NU juga dinilai telah memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara dalam berbagai bidang keilmuan maupun nilai kemanusiaan.

Sebagai pengasuh pesantren di Bali, wilayah dengan jumlah masyarakat Muslim sebagai minoritas, Ainun berharap kepemimpinan NU ke depan mampu memahami kebutuhan masyarakat secara lebih luas.

Ia juga menilai sejumlah nama yang muncul dalam dinamika Muktamar memiliki kapasitas untuk mengemban amanah di kepengurusan PBNU.

Salah satu nama yang disebut adalah KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Ainun menilai Gus Kikin memiliki latar belakang sebagai kiai pesantren serta kemampuan mengkoordinasikan para kiai pesantren sehingga dinilai layak untuk menempati posisi Katib Aam PBNU.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain Gus Kikin, Ainun juga menyebut Dr. KH. Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai salah satu figur yang dinilainya memiliki visi untuk menghadapi tantangan NU di masa mendatang.

Gus Rozin disebut aktif dalam berbagai kegiatan dakwah dan organisasi serta menjadi salah satu inisiator dan penggerak lahirnya Hari Santri Nasional yang kemudian ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Halaman Selanjutnya

Ainun juga menyoroti keterlibatan Gus Rozin dalam isu ekonomi digital pesantren, perubahan iklim dan kecerdasan buatan (AI). Selain itu, menurutnya, Gus Rozin memiliki pengalaman dalam sejumlah tugas kenegaraan, termasuk pernah mengemban amanat di Dewan Ketahanan Pangan Nasional, menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan, serta terlibat dalam proses lahirnya Undang-Undang Pesantren.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |