Jakarta, VIVA – Tingkat kepercayaan publik terhadap Institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menunjukkan tren positif.
Berdasarkan hasil survei terbaru dari Institute untuk Digital Demokrasi (IDM), tingkat kepercayaan masyarakat kini mencapai 79,2 persen Capaian ini dinilai selaras dengan kerja nyata dan berbagai keberhasilan yang ditunjukkan oleh jajaran kepolisian di lapangan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Salah satu bukti nyata ditunjukkan oleh jajaran Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) melalui Polres parepare kerja senyap yang terukur aparat kepolisian berhasil mengungkap jaringan narkoba skala besar pada Rabu, 10 Juni 2026.
Dalam operasi tersebut, petugas menggagalkan penyelundupan barang bukti berupa 41,4 kilogram sabu serta 157 cartridge rokok elektrik (vape) yang mengandung bahan kimia berbahaya, Etomidate.
Kriminolog Tegar Bimantoro memberikan analisis mendalam mengenai peta kerawanan di wilayah tersebut. Menurutnya, posisi geografis Kota Parepare menjadikannya sebagai wilayah transit yang sangat rawan bagi peredaran gelap narkoba.
"Kita ketahui bersama bahwa Parepare adalah wilayah transit yang strategis. Di sana terdapat Pelabuhan Nusantara yang menghubungkan antar-pulau di wilayah Sulawesi Selatan, bahkan akses langsung ke Kalimantan maupun Nusa Tenggara Barat (NTB)," ujar Tegar dalam keterangannya, Rabu, 10 Juni 2026.
Melihat karakteristik rute tersebut, Tegar menduga kuat bahwa komoditas haram ini berasal dari jaringan internasional.
"Besar kemungkinan penangkapan ini bersumber dari jaringan lintas negara yang masuk melalui rute Kalimantan, kemudian menyeberang ke Parepare, untuk selanjutnya siap diedarkan ke seluruh wilayah Sulawesi atau dilayarkan kembali ke pulau-pulau lain," kata dia.
Tegar menegaskan bahwa kejahatan narkoba masuk dalam kategori kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Ia menilai memutus mata rantai bisnis narkoba tergolong sangat sulit, meskipun para gembongnya telah ditindak tegas hingga dijatuhi hukuman mati.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tegar mengungkapkan beberapa faktor bisnis narkoba sulit diberantas, yakni evolusi jaringan gelap, dan para pelaku kriminal selalu bergerak dinamis. Setiap hari, kata dia, mereka terus memikirkan modus-modus baru untuk mengelabui petugas di lapangan.
"Kemudian, keuntungan bisnis yang fantastis, faktor ekonomi dan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi pemicu utama. Ketika kurir atau pengedar tidak memiliki pekerjaan tetap, bisnis ilegal dengan perputaran uang yang masif ini kerap menjadi jalan pintas yang mereka pilih," katanya.
Halaman Selanjutnya
Guna mengantisipasi penyelundupan serupa, Tegar menyarankan adanya reformasi strategi pengamanan di wilayah pesisir. Kuncinya terletak pada penguatan fungsi intelijen dan kolaborasi multisektoral.

2 hours ago
2















