RI Perlu Ubah Struktur Neraca Pembayaran dari Debt-Driven Jadi Investment-Driven Kurangi Ketergantungan Utang

2 hours ago 2

Selasa, 1 September 2026 - 09:48 WIB

Jakarta, VIVA – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai keinginan mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman dan lebih mengutamakan investasi merupakan arah yang tepat. Namun, transformasi tersebut membutuhkan perubahan lebih fundamental terhadap struktur pembiayaan dan neraca pembayaran Indonesia.

Menurut Fakhrul, investasi langsung memiliki karakter berbeda dengan utang. Utang menciptakan kewajiban pembayaran kembali dan bunga, sementara investasi produktif—terutama yang berbasis ekspor—dapat menciptakan kapasitas produksi, lapangan kerja, teknologi, ekspor, dan sumber penerimaan valuta asing baru.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Saya sependapat dengan arah yang disampaikan Presiden. Kalau Indonesia mempunyai pilihan antara terus menambah ketergantungan terhadap utang atau memperbesar investasi produktif, kita harus semakin menggeser struktur pembiayaan menuju investasi. Apalagi kalau pembiayaan neraca pembayaran masih didominasi SBN dan SRBI, beban biaya bunga akan terus meningkat.”

Masalahnya Bukan Hanya Utang Pemerintah, tetapi Struktur Neraca Pembayaran

Fakhrul menekankan bahwa persoalan utang tidak cukup dilihat dari APBN. Dari perspektif balance of payments, Indonesia masih bergantung pada foreign portfolio flows ke instrumen berbasis utang, terutama SBN dan SRBI, untuk membantu memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal.

Karena itu, strategi mengurangi ketergantungan terhadap utang harus disertai penciptaan sumber capital inflow alternatif.

“Kita tidak bisa hanya mengurangi debt inflows. Kita harus mempunyai penggantinya. Kalau ketergantungan kepada debt-based capital flows ingin turun, investment-based capital flows harus naik.”

Terkait hal tersebut, perbaikan persepsi terhadap pasar modal Indonesia, termasuk persoalan yang menjadi perhatian MSCI, perlu segera dilakukan karena dapat memengaruhi kemampuan Indonesia menarik arus investasi global.

Net FDI Indonesia Masih Terlalu Rendah

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Fakhrul, net direct investment Indonesia dalam beberapa tahun terakhir hanya berada di kisaran sekitar 0,8–1,7% terhadap PDB, belum cukup besar untuk secara struktural mengubah komposisi pembiayaan eksternal.

“Gross investment Indonesia memang besar. Tetapi dalam balance of payments kita harus melihat net direct investment, karena perusahaan Indonesia juga semakin aktif berinvestasi ke luar negeri. Net FDI ini harus kita naikkan secara struktural.”

Halaman Selanjutnya

Indonesia terutama membutuhkan investasi yang menghasilkan ekspor, substitusi impor, dan foreign-currency earning capacity.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |