Rupiah Anjlok ke Rp 18.014 Per Dolar AS Imbas Ekskalasi Geopolitik Timur Tengah

1 week ago 12

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:40 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah, bahkan hingga menyentuh angka Rp 18.000 per dolar AS.

Perdagangan di pasar spot pada Rabu, 8 Juli 2026 hingga pukul 14.18 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 18.014 per dolar AS. Posisi itu melemah 34 poin atau 0,19 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.980 per dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara jika berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.988 pada Selasa, 7 Juli 2026. Posisi rupiah itu menguat 11 poin dari kurs sebelumnya di level 17.999 pada perdagangan Senin, 6 Juli 2026.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong memperkirakan, eskalasi geopolitik di Timur Tengah (Timteng) bisa menjadi faktor yang menekan rupiah.

“Penyerangan besar AS ke Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz,” kata Lukman, Rabu, 8 Juli 2026.

Diketahui, AS melancarkan serangkaian serangan baru ke Iran, dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi tersebut adalah untuk merespons serangan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz.

Adapun pada Selasa, 7 Juli 2028, laporan media nasional Iran, IRIB menyebut, sebuah kapal Qatar, Al-Rekayyat, berusaha melewati Selat Hormuz melalui jalur Oman dengan dukungan Angkatan Laut AS. Tapi, kapal tersebut menjadi sasaran serangan setelah sejumlah peringatan disampaikan.

Sentimen lainnya berasal dari data cadangan devisa (cadangan devisa) Indonesia yang meningkat. Bank Indonesia (BI) melaporkan, posisi cadev Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai US$145,6 miliar, naik tipis US$700 juta dari posisi akhir Mei 2026 yang sebesar US$144,9 miliar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perkembangan posisi cadangan devisa pada Juni 2026 terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa. Di sisi lain, perkembangan tersebut terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia, sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Halaman Selanjutnya

“Namun, investor masih mengantisipasi indeks kepercayaan konsumen siang ini yang diperkirakan akan naik ke 125,” ujarnya. (Ant).

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |