Rupiah Melemah ke Rp 17.514, Pasar Ragu Pada Kualitas Pertumbuhan Ekonomi dan Ketahanan Fiskal RI

7 hours ago 4

Rabu, 13 Mei 2026 - 09:56 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.514 pada Selasa, 12 Mei 2026. Posisi rupiah itu melemah 99 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.415 pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 13 Mei 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.514 per dolar AS. Posisi itu melemah 14 poin atau 0,08 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.500 per dolar AS.

Tumpukan uang rupiah dengan berbagai nominal

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen merupakan realisasi terbesar sejak lima tahun terakhir, bahkan jadi yang tertinggi di antara negara G20.

Namun, angka pertumbuhan PDB itu harus selalu dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu year-on-year (yoy). Padahal kuartal I-2025 adalah salah satu realisasi terburuk dalam beberapa tahun terakhir yang hanya sebesar 4,87 persen.

Angka 5,61 persen terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah. Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basis.

"Selain itu, jika diteliti lebih jauh, pertumbuhan kuartal I-2026 ini tak bisa dikatakan sehat. Ada banyak variabel yang perlu dicermati dan diwaspadai," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu, 13 Mei 2026.

Kemudian, Presiden Prabowo telah menegur Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, karena rupiah berada di dekat rekor terendah sekitar Rp 17.500 per dolar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sentimen juga terpukul oleh penurunan sektor manufaktur Indonesia pada bulan April dan menjadi yang pertama dalam sembilan bulan, karena melemahnya permintaan pasca-liburan dan meningkatnya tekanan produksi akibat guncangan geopolitik dan pasokan.

Selain itu, sejumlah data ekonomi belum mampu menopang laju rupiah. Ketidakpastian arah kebijakan terkait pengenaan royalti terhadap hasil tambang, ditambah belum jelasnya arah penambahan pendapatan negara di tengah belanja yang nilainya jumbo, membuat pasar khawatir dengan kondisi fiskal

Halaman Selanjutnya

Ditambah hari ini, pasar akan mencermati pengumuman dari MSCI terkait potensi penurunan bobot Indoneia dalam indeks global tersebut.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |