Rupiah Melemah ke Rp 17.750 saat Pasar Menanti Rilis Inflasi Juli 2026

2 hours ago 1

Senin, 31 Agustus 2026 - 09:21 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.703 pada Jumat, 28 Agustus 2026. Posisi rupiah itu menguat 59 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.762 pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 31 Agustus 2026 hingga pukul 09.11 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.750 per dolar AS. Posisi itu melemah 57 poin atau 0,32 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.693 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Photo :

  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespon positif terhadap Komisi XI DPR RI secara resmi telah menyetujui dan menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih untuk periode 2026–2031.

Keputusan ini diambil melalui musyawarah mufakat pada Kamis, 27 Agustus 2026, setelah Destry menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). Destry yang sebelumnya menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara (Pjs) BI diusulkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai calon tunggal.

Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi yang dijadwalkan rilis pekan depan. Data inflasi ini menjadi indikator krusial bagi Bank Sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga ke depan.

Inflasi yang terkendali dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan, sementara inflasi yang tinggi akan memaksa suku bunga tetap ketat.

Selain itu, rilis data perdagangan bulan Juli 2026 sering kali memicu kekhawatiran terhadap harga pangan, karena angka-angka tersebut mencerminkan kondisi pasokan, permintaan, dan biaya distribusi pangan di tingkat global maupun domestik.

Jika data menunjukkan lonjakan impor pangan, artinya pasokan dalam negeri sedang menipis atau tergantung pada negara lain. Serta, melemahnya mata uang rupiah dalam laporan perdagangan membuat biaya impor pangan menjadi lebih mahal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.690-Rp 17.750," ujarnya.

Sebagai informasi, laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa pemerintahan Trump telah berulang kali menyampaikan kepada para mediator, bahwa mereka tidak berminat menghidupkan kembali nota kesepahaman bulan Juni sehingga mempersulit upaya diplomatik untuk memulai kembali perundingan.

Halaman Selanjutnya

Sebelumnya pada hari Kamis, Washington menyatakan tidak sedang melakukan pembicaraan dengan Iran, terlepas dari upaya diplomatik negara-negara lain untuk mempertemukan kembali kedua belah pihak. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |