Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.635 pada Senin, 14 September 2026. Posisi rupiah itu melemah 24 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.611 pada perdagangan Jumat, 11 September 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 15 September 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.661 per dolar AS. Posisi itu menguat 8 poin atau 0,05 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.669 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan ini terjadi di tengah isu pergantian Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
"Momentum saat ini Purbaya di reshuffle sudah bom waktu yang sudah cukup lama, kita lihat bahwa Purbaya ini bersih. Selalu bersih-bersih di Kementerian Keuangan di Pajak dan Bea Cukai. Bisa saja ini banyak sekali musuhnya terutama dari partai politik," kata Ibrahim kepada media, Selasa, 15 September 2026.
Di sisi lain, Ibrahim menilai bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh perekonomian global yang diperkirakan masih menghadapi berbagai tantangan pada 2026.
Hal ini ditandai dengan tingginya harga energi, suku bunga global yang bertahan tinggi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.
"Karenanya, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga defisit APBN 2026 tetap di bawah 3 persen terhadap PDB," ujar Ibrahim.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurutnya, menjaga defisit APBN 2026 di bawah 3 persen memang membutuhkan koreksi belanja yang cukup dalam. MBG menjadi salah satu program yang masih memiliki ruang untuk diefisienkan, karena termasuk program yang masih layak diperluas efisiensinya.
Pagu awal sekitar Rp 330 triliun sejak awal terlihat cukup besar, dibandingkan dengan kesiapan tata kelola di lapangan. Penurunan anggaran MBG menjadi sekitar Rp 262,5 triliun, kemudian Rp 232,5 triliun (Rp 30 triliun) untuk 72,46 juta penerima, bahkan apabila harus ditekan di bawah Rp 200 triliun sebenarnya masih dapat diterima. Namun, efisiensi tersebut harus diarahkan pada komponen yang tidak produktif.
Halaman Selanjutnya
"Yang perlu dijaga bukan besarnya anggaran MBG, tetapi efektivitas belanjanya. Kalau ruang efisiensi di BGN masih ada, pemangkasan seharusnya dilanjutkan," kata Ibrahim.

5 hours ago
4













