Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.994 pada Kamis, 2 Juli 2026. Posisi rupiah itu melemah 33 poin dari kurs sebelumnya di level 17.961 pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 3 Juli 2026 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.950 per dolar AS. Posisi itu menguat 45 poin atau 0,25 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.995 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia dinilai menghadapi ujian cukup berat, setelah munculnya sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal II-2026.
Mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan indonesia bulan Mei 2026 mengalami defisit, inflasi melonjak, hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.
Selain itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan, PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun, dimana pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025.
S&P mengungkapkan, PMI Indonesia ini menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kesehatan sektor produksi barang. Headline menunjukkan penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, yang merupakan salah satu penurunan paling besar dalam setahun.
Penyebab utama penurunan pada bulan Juni 2026 adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, dan pada laju tercepat dalam setahun.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kemudian, lembaga pemeringkat internasional Fitch Rating memperkirakan, cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan median negara dengan peringkat BBB yang mencapai 5 bulan.
Menurut Fitch, penyusutan cadangan devisa terutama dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi BI di pasar valuta asing untuk menopang rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.
Halaman Selanjutnya
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.990-Rp 18.050," ujarnya.

1 week ago
15











