VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.813 per Rabu, 25 Februari 2026. Posisi rupiah itu menguat 17 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.830 pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara perdagangan di pasar spot pada Kamis, 26 Februari 2026 hingga pukul 09.08 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.753 per dolar AS. Posisi itu menguat 47 poin atau 0,28 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.800 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
Photo :
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Moody's Ratings (Moody's) telah memberikan peringkat Baa2 terhadap obligasi berdenominasi Yuan offshore China dan Euro, yang diterbitkan pemerintah Indonesia dengan mekanisme shelf registration (obligasi berkelanjutan) senilai US$10 miliar.
Secara fundamental, Moody’s masih menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang memadai. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah.
Moody’s memperkirakan, pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan bertahan di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun ke depan, dengan defisit fiskal tetap berada di bawah ambang batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam kerangka makro konvensional, ini merupakan indikator stabilitas yang selama dua dekade terakhir menopang kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah Indonesia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun, stabilitas tersebut saat ini tengah dibayangi oleh meningkatnya ketidakpastian dalam proses perumusan kebijakan. Moody’s secara eksplisit mencatat bahwa prediktabilitas dan koherensi kebijakan telah melemah dalam setahun terakhir, dan diperparah oleh komunikasi kebijakan yang kurang efektif. Kombinasi ini berkontribusi pada meningkatnya volatilitas di pasar ekuitas dan valuta asing.
Masalah mendasar terletak pada dilema klasik fiskal Indonesia, yaitu kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan melalui ekspansi belanja publik di tengah basis penerimaan negara yang sempit. Pemerintah diperkirakan akan semakin mengandalkan belanja fiskal untuk mendukung agenda pembangunan, termasuk program ketahanan pangan dan perumahan terjangkau.
Halaman Selanjutnya
Namun, terbatasnya kemampuan pemerintah dalam memperluas basis pajak, malah meningkatkan risiko pelebaran defisit fiskal dalam jangka menengah. Terutama jika ekspansi belanja tidak diimbangi oleh reformasi penerimaan yang signifikan.

2 weeks ago
11











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
