Saat Pasangan Sering Marah, Ini 7 Cara Sehat untuk Menghadapinya

5 days ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Perpecahan hubungan seringkali terjadi karena tidak mampu menghadapi emosi kemarahan pasangan. Ketika si Dia marah dengan intensitas sering  hal ini bisa memicu perpecahan. Maka dibutuhkan kebijaksanaan untuk menjaga hubungan tetap harmonis.

Banyak hubungan berakhir karena pasangan tidak tahu cara sehat mengahadapi pasangan yang sedang marah. Ketika perasaan marah diungkapkan, terkadang hal itu menimbulkan banyak energi negetif. Tetapi, ketika Anda menghadapinya dengan rasa cinta dan rasa hormat, maka otak Anda akan memberikan respons yang tenang.

Berikut tujuh cara sehat menghadapi pasangan yang sedang marah, melansir dari Marriage, Kamis (22/1/2026).

1. Jangan Respons dengan Kemarahan

Jika Anda menambah 'api' yang sudah ada, maka situasi akan semakin terbakar. Sikap yang perlu diberikan adalah ketenangan, kedamaian, dan kedewasaan.

Bersikap tenang adalah strategi sementara yang dilakukan sebelum situasi semakin memanas. Tidak ada pikiran yang jernih ketika saling melempar amarah. Setelah pasangan Anda tenang, baru dapat membahas masalah tersebut dengan cara yang lebih baik.

2. Ajak Pasangan untuk Mengontrol Emosi

Jika Anda memiliki pasangan yang sering melontarkan kata-kata kasar atau menyinggung, jangan Anda anggap hal itu wajar. Pasangan Anda tidak akan belajar untuk lebih menjaga emosi dan kata-katanya. 

Sampaikan dengan kata-kata halus, bahwa Anda tidak nyaman dengan ucapannya dan minta dia agar lebih belajar mengontrol emosi.

3. Tetapkan Batasan

Penting memberikan batasan yang tegas untuk menghadapi pasangan yang pemarah. Mulai dengan memutuskan toleransi kemarahan dan apa yang tidak bisa Anda toleransi. Selanjutnya, beri tahu hal tersebut ke pasangan Anda.

Dalam sebuah hubungan membutuhkan rasa saling menghormati agar dapat bertahan. Ingatlah, batasan bukan bentuk egois, melainkan cara untuk membangun dan menjaga hubungan yang sehat.

4. Berikan Rasa Sayang

Terkadang orang yang marah adalah seseorang yang sudah sangat terluka dan memilih untuk menggunakan amarah mereka sebagai bentuk membela diri. Bahkan, ancaman atau rasa tidak nyaman dapat menyebabkan mereka marah. 

Ciptakan rasa aman secara emosional dengan cara, berikan rasa kasih sayang dengan mengucapkan hal-hal baik, jangan dulu mengkritiknya, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan bersikap tulus.

5. Introspeksi Diri

Kecenderungan memiliki pasangan yang suka marah adalah menyalahkan pasangan atau orang lain atas permasalahannya. Ingat Anda hanya bertanggung jawab atas permasalahan Anda.

Ingat-ingat kembali, apakah ada kesalahan yang Anda lakukan kepadanya, apakah ada kata-kata atau perbuatan yang membuatnya sakit hati. Saat inilah Anda perlu intropeksi diri.

6. Tawarkan Solusi

Salah satu bahaya besar memiliki pasangan yang pemarah adalah Anda pun akan menjadi pemarah. Karena emarahan bisa memancing emosi lawan bicaranya.  

Ajak pasangan Anda berbicara setelah tenang, validasi dulu rasa marahnya jangan langsung mengkritik. Setelah itu coba bantu cari solusinya.

7. Pahami Sampai Kapan Anda Kuat Bertahan

Jika pasangan Anda jarang marah dan hanya sesekali marah,  anggaplah marah tersebut hal yang wajar. Namun, jika pasangan pemarah mengakui bahwa mereka memiliki masalah dan bersedia mencari bantuan, maka ada harapan jika pasangan Anda masih mempertahankan hubungan sehat.

Namun, jika tidak ada pengakuan atas kesalahan atau permintaan maaf, dan tidak menunjukkan perubahan maka tidak ada salahnya jika mengakhiri hubungan tersebut, demi kesehatan pikiran dan mental Anda.

Beberapa Faktor Utama yang Memicu Permasalahan Emosional

a. Sering kali kemarahan berakar dari kebutuhan emosional maupun fisik yang tidak terpenuhi oleh pasangan.

b. Pola komunikasi yang buruk menciptakan jarak, membuat seseorang merasa tidak didengar, dan akhirnya memicu rasa sakit hati.

c. Hilangnya kepercayaan akibat pengkhianatan atau trauma masa lalu akan memicu kemarahan yang mendalam.

d. Faktor luar seperti beban kerja, masalah finansial, hingga konflik keluarga besar dapat menguras kesabaran dan membuat seseorang lebih mudah meledak.

Mungkinkah Seseorang yang Sulit Mengendalikan Amarah Berubah?

Penting untuk disadari bahwa kemarahan biasanya bersumber dari rasa sakit hati yang terpendam. Mereka yang kesulitan mengelola amarah sering kali merasa kesepian dan tersisihkan, sehingga sebenarnya mereka sangat membutuhkan kasih sayang dan pengertian.

Perubahan itu sangat mungkin terjadi, asalkan individu tersebut memiliki kemauan kuat untuk menempuh proses yang tidak mudah. Melalui kerja keras untuk memperbaiki diri, seseorang perlu belajar membangun kesadaran diri self-awareness yang lebih baik terhadap lingkungan dan mengenali pemicu emosinya. 

Dengan mengubah pandangan menjadi lebih positif terhadap diri sendiri, pengendalian emosi negatif akan menjadi lebih mungkin dilakukan, yang pada akhirnya akan membawa dampak baik bagi kualitas hubungannya.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |