Sarmuji: Pancasila Perlu Ditumbuhkan Lagi Lewat Strategi Kebudayaan di Era Digital dan AI

16 hours ago 1

Selasa, 14 Juli 2026 - 19:30 WIB

Jakarta, VIVA – Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M Sarmuji mengajak generasi muda untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai Pancasila, alih-alih sekadar menghafalnya, melalui revitalisasi sumber nilainya yang berakar pada kearifan lokal dan saluran penanamannya yang mesti menyesuaikan perkembangan zaman digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Ajakan itu disampaikan Sarmuji dalam Seminar Wawasan Kebangsaan bertajuk “Pancasila Bukan Dibumikan, Tapi Ditumbuhkan” di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sarmuji mengawali pemaparannya dengan mengingatkan bahwa Pancasila bukan barang titipan dari luar yang perlu “diturunkan” ke bumi Indonesia, melainkan memang sudah lahir dari bumi Indonesia sendiri. Karena itu, menurutnya, keliru ungkapan yang belakangan mengemuka, “membumikan kembali Pancasila”.

Ia mengutip pernyataan Proklamator sekaligus presiden pertama RI, Sukarno (Bung Karno), dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams: “Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami tradisi-tradisi kami sendiri dan aku menemukan lima butir mutiara indah.”

“Kalau Bung Karno saja bilang begitu, ya berarti merawat Pancasila itu artinya merawat sumber galiannya — budaya dan kepercayaan asli yang hidup di berbagai daerah, bukan sekadar menghafalkan lima sila,” kata Sarmuji.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar itu mencontohkan sejumlah kearifan lokal Nusantara yang menurutnya menjadi sumber nilai luhur bangsa, seperti ajaran leluhur Jawa dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV: “aja adigang, adigung, lan adiguna” — larangan menyombongkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian. Kearifan serupa, katanya, juga hidup dalam siri' na pacce dari Bugis-Makassar, Tri Hita Karana dari Bali, dan Dalihan Na Tolu dari Batak — yang semuanya bermuara pada hikmat kebijaksanaan dalam sila keempat Pancasila.

Selain merawat sumbernya, Sarmuji menekankan pentingnya merevitalisasi saluran penanaman nilai itu sendiri. Dahulu, katanya, nilai-nilai luhur bangsa diwariskan lewat dongeng, tembang, dan wayang — cara yang dekat secara emosional dan diterima dalam ruang keluarga. Menurutnya, cara-cara itu perlu padanan baru yang setara untuk zaman sekarang: media sosial, kecerdasan buatan, film, musik atau lagu, dan berbagai medium digital lainnya, sebagai sarana menumbuhkan kembali nilai-nilai Pancasila — bukan sekadar dipandang sebagai ancaman.

Halaman Selanjutnya

“Persoalannya bukan menolak teknologinya, tapi bagaimana nilai luhur kita bisa dikemas semenarik konten yang selama ini justru mengalahkannya,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |