VIVA – Menemukan benjolan di payudara bisa membuat siapa pun panik. Namun, benjolan tidak selalu berarti kanker. Di sisi lain, tidak semua kanker payudara menimbulkan rasa sakit. Karena itu, menebak kondisi hanya berdasarkan apa yang dirasakan bukanlah langkah yang tepat. Pemeriksaan dan diagnosis yang akurat menjadi kunci untuk menentukan penanganan selanjutnya.
Kanker payudara masih menjadi salah satu kanker yang paling banyak dialami perempuan di Indonesia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, tercatat 66.271 kasus baru dengan 22.598 kematian. Salah satu persoalan besarnya adalah banyak kasus baru diketahui ketika sudah memasuki stadium lanjut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Deteksi lebih awal dapat memberikan peluang penanganan yang lebih baik. Sehingga hal itu sangat dianjurkan oleh para dokter.
“Kanker payudara bukan akhir dari segalanya. Deteksi ini dapat meningkatkan peluang kesembuhan,” ujar Dr. Lim Sue Zann, Senior Konsultan dan dokter spesialis bedah payudara di Solis Breast Care & Surgery Centre.
Benjolan Tidak Selalu Berarti Kanker
Benjolan payudara bisa disebabkan berbagai kondisi, termasuk kista atau fibroadenoma yang bersifat jinak. Karena itu, benjolan tidak bisa langsung disebut kanker hanya dengan pemeriksaan sendiri.
Sebaliknya, benjolan yang tidak terasa sakit juga tidak otomatis aman. Dokter Lim mengingatkan pentingnya pemeriksaan untuk membedakan kondisi jinak dan kanker.
“Benjolan di payudara bukan berarti selalu kanke. Pun ada banyak benjolan yang jinak, yang aman. Tapi kita perlu membedakan mereka,” jelasnya.
Jika ditemukan perubahan pada payudara, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan dapat melanjutkannya dengan mammogram atau USG. Bila terdapat bagian yang mencurigakan, biopsi mungkin diperlukan.
Mammogram dan USG Punya Fungsi Berbeda
Mammogram adalah pemeriksaan payudara menggunakan sinar-X, sedangkan USG menggunakan gelombang suara untuk melihat jaringan payudara.
Keduanya tidak selalu bisa saling menggantikan. Mammogram, misalnya, dapat menemukan microcalcification atau endapan kalsium kecil yang tidak mudah terlihat melalui USG.
“Kalsifikasinya tidak dapat terdeteksi melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG),” kata Dokter Lim.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Karena itu, pemilihan pemeriksaan sebaiknya mengikuti kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Mengapa Biopsi Penting?
Halaman Selanjutnya
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dugaan kanker, dokter dapat menyarankan biopsi. Prosedur ini mengambil sedikit jaringan untuk diperiksa di laboratorium.

12 hours ago
5













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)


