Solar Nonsubsidi Tembus di Atas Rp 30.000 per Liter, Bahlil Tegaskan Kenaikan Harga Hanya untuk Orang yang Mampu

1 week ago 16

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:29 WIB

Jakarta, VIVA – Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non-subsidi hingga menembus di atas Rp30.000 per liter jadi perhatian masyarakat khususnya yang pengguna kendaraan bermesin diesel.

Merespons hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, kenaikan harga BBM tidak menyentuk produk subsidi seperti bensin, solar, dan LPG tetap dijaga stabil di tengah tekanan harga energi global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Sekali lagi saya katakan bahwa untuk minyak subsidi baik itu bensin, solar maupun LPG tidak akan ada kenaikan. Saya katakan tidak akan ada kenaikan. Namun untuk BBM yang sifatnya industri atau hanya untuk orang-orang yang mampu itu penyesuaiannya berdasarkan harga pasar dan sesuai dengan peraturan menteri ESDM tahun 2022 ya,” kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa, 5 Mei 2026.

Seperti diketahui, kenaikan harga justru terjadi pada BBM non-subsidi, khususnya solar yang jugabanyak digunakan sektor industri. Di sejumlah SPBU swasta, harganya bahkan menembus angka Rp30.000 per liter.

Di jaringan SPBU milik Vivo Energy Indonesia, produk Diesel Primus kini dibanderol Rp30.890 per liter. Sementara produk bensin Revvo 92 dipatok Rp12.390 per liter, berdasarkan pembaruan harga per 1 Mei 2026.

Kondisi serupa juga terlihat di SPBU milik BP, di mana harga BP Ultimate Diesel turut menyentuh Rp30.890 per liter, dengan BBM jenis BP 92 berada di level Rp12.390 per liter.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak hanya swasta, penyesuaian harga juga dilakukan oleh Pertamina untuk produk non-subsidi. Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp19.900 per liter dari sebelumnya Rp19.400 per liter. Dexlite melonjak ke Rp26.000 per liter dari Rp23.600, sementara Pertamina Dex kini berada di level Rp27.900 per liter dari sebelumnya Rp23.900.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaiman, menyebut lonjakan harga ini tidak lepas dari gejolak geopolitik global yang masih fluktuatif.

“Ya tentu kalau kita perhatikan kan kondisi geopolitik ini tidak stabil ya. Naik turun, naik turun, naik turun,” kata Laode.

Menurutnya, di tengah ketidakpastian tersebut, pemerintah saat ini lebih fokus menjaga ketersediaan pasokan energi dibanding mengendalikan harga. “Yang paling penting buat kita itu saat ini menjaga stok aja aman. Udah itu aja dulu, kita nggak usah pikirin dulu. Ini tapi stok aman aja udah, itu yang paling penting,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Laporan Abdul Gani Siregar / tvOnenews

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |