Sosok Muhammad Abdi Maludin, Ketua BEM FH UBK yang Diduga Terima Suap Usai Temui Gibran di Istana

3 weeks ago 7

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:35 WIB

Jakarta, VIVA – Pengakuan Ketua BEM FH UBK (Universitas Bung Karno), Muhammad Abdi Maludin, menghebohkan publik setelah video pernyataannya viral di media sosial.

Dalam video tersebut, Muhammad Abdi Maludin mengaku menerima uang suap aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Istana Negara, Jakarta, pada 15 Juni 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut pengakuannya, total uang yang diterima mencapai Rp20 juta. Dana tersebut kemudian dibagikan kepada sejumlah mahasiswa dengan nominal sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per orang.

Pembagian uang itu disebut dilakukan setelah rangkaian aksi unjuk rasa berakhir.

Selain Muhammad Abdi Maludin, sejumlah mahasiswa lain juga disebut menerima uang suap tersebut. Mereka adalah Wakil Ketua BEM FH UBK Rafly Maulana Akbar, Pengurus BEM FH Mubarak Tuasamu, Ketua BEM FEB Pujiono, serta Wakil Ketua BEM FEB Muhammad Rafi Bastian.

Meski demikian, hingga kini belum diketahui siapa yang memberikan uang tersebut. Di hadapan mahasiswa UBK, Muhammad Abdi Maludin menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang terjadi dan mengakui kesalahannya.

"Tentu saya meminta maaf atas kejadian yang telah terjadi," ucapnya, Selasa 23 Juni 2026.

Usai video tersebut, nama Muhammad Abdi Maludin sontak menjadi sorotan publik. Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), Muhammad Abdi Maludin tercatat sebagai mahasiswa aktif Universitas Bung Karno (UBK) sejak 12 September 2022.

Ia menempuh pendidikan pada Program Studi Ilmu Hukum dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 2101220004.

Sebelum polemik dugaan suap mencuat, Muhammad Abdi Maludin sempat menjadi salah satu juru bicara mahasiswa saat aksi demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta.

Dalam orasinya, ia mendesak pimpinan DPR RI segera membuka ruang komunikasi dengan mahasiswa yang melakukan aksi di berbagai daerah.

"Pimpinan DPR RI Puan Maharani, Dasco, dan jajarannya segera buka ruang dialog untuk mahasiswa waktu terdekat ini," ujarnya saat aksi pada Senin 15 Juni 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menilai dialog perlu dilakukan untuk mencegah terulangnya kericuhan yang pernah terjadi dalam aksi demonstrasi sebelumnya.

"Karena memang kita paling takut terjadi ke-chaos-an di tanggal 28 Agustus tahun 2025, kami tidak mau, BEM UBK menyatakan sikap, kami tidak mau ke-chaos-an terjadi lagi," ujar Muhammad Abdi Maludin.

Halaman Selanjutnya

Sebagai informasi, aksi demonstrasi besar pada 2025 sempat berujung bentrokan di kawasan Gedung DPR/MPR RI dan Markas Polda Metro Jaya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |