VIVA –Sebagian besar pria berusia 40-an mungkin tidak menyangka akan mengalami kondisi seperti ini. Energi yang dulu terasa selalu tersedia kini lebih sulit didapatkan. Tubuh juga membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih setelah menjalani pekan yang melelahkan. Aktivitas padat yang sebelumnya masih bisa dijalani dengan mudah kini justru membuat tubuh terasa benar-benar kehabisan tenaga.
Jika dulu kita selalu mengaosiasikannya dengan usia, namun ternyata tidak hal tersebut belum sepenuhnya menjelaskan apa yang terjadi. Melansir laman iqdoctor.co.uk, Minggu 12 September 2026, dalam istilah klinis, pola seperti ini terkadang disebut kelelahan metabolik. Kondisi tersebut mencerminkan dampak kumulatif dari sejumlah perubahan yang terjadi secara bersamaan, bukan hanya satu penyebab.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Lantas apa yang berubah pada tubuh pria saat memasuki usia 40-an? Dari sisi fisiologis, usia 40-an sering menjadi periode ketika sejumlah perubahan yang berkaitan dengan pertambahan usia mulai terasa lebih nyata.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Penurunan kadar testosteron secara bertahap, yang dapat dimulai sekitar pertengahan usia 30-an dan berlanjut sekitar 1-2 persen per tahun.
- Perubahan pola tidur, termasuk berkurangnya waktu yang dihabiskan dalam fase tidur nyenyak dan memulihkan tubuh.
- Penurunan massa otot tanpa lemak secara alami jika tidak dipertahankan secara aktif.
- Kemampuan tubuh mengatur gula darah yang cenderung sedikit menurun.
- Respons tubuh terhadap stres yang semakin kuat, dengan kadar kortisol membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke kondisi normal.
Tidak satu pun dari perubahan tersebut secara langsung merupakan masalah besar. Namun, jika terjadi secara bersamaan, semuanya dapat memberikan dampak yang semakin besar terhadap energi, suasana hati, dan kemampuan tubuh menghadapi aktivitas fisik maupun tekanan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Hubungan antara Testosteron dan Energi
Testosteron berperan penting dalam kesehatan metabolisme pria, jauh lebih luas daripada sekadar kaitannya dengan fungsi seksual. Hormon ini membantu mempertahankan massa otot, yang merupakan salah satu jaringan tubuh paling aktif secara metabolik. Testosteron juga berperan dalam membantu tubuh menggunakan glukosa secara efisien, memecah lemak sebagai sumber energi, serta menjaga motivasi dan kewaspadaan.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, testosteron turut berkaitan dengan kualitas tidur, kestabilan emosi, serta kemampuan tubuh memulihkan diri setelah aktivitas fisik dan mental. Ketika kadar testosteron menurun, dampaknya dapat muncul pada berbagai fungsi tersebut secara bersamaan. Itulah sebabnya kadar testosteron yang rendah sering kali tidak terasa sebagai satu gejala tertentu. Kondisinya lebih seperti penurunan fungsi tubuh secara umum. Pria usia 40-an mungkin mulai merasakan:

9 hours ago
1












