Status WA Terakhir dr. Adrian Rantung Sebelum Meninggal: Tidak Ada Lagi Semangat Berjuang dalam Diriku...

1 week ago 13

Selasa, 7 Juli 2026 - 14:43 WIB

Manado, VIVA – Kabar meninggalnya dr. Adrian Rantung, dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), menjadi perhatian publik. Peristiwa ini memicu sorotan terhadap tekanan yang dihadapi dokter muda selama menjalani pendidikan spesialis, termasuk dugaan adanya praktik perundungan di lingkungan rumah sakit pendidikan.

Kasus tersebut ramai diperbincangkan setelah beredar unggahan yang disebut sebagai status WhatsApp terakhir dr. Adrian sebelum ditemukan meninggal dunia. Isi pesan itu menyentuh banyak pihak karena menggambarkan kelelahan emosional yang diduga dialami korban.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Unggahan tersebut kemudian beredar luas di media sosial, salah satunya melalui akun X @tb_siswadi pada Selasa, 7 Juli 2026. Dalam status tersebut tertulis:

"Tidak ada lagi semangat untuk berjuang dalam diriku. Bukan karena aku lemah, tapi karena tidak ada lagi yang terasa layak untuk diperjuangkan. Aku bukan menyerah, aku hanya perlahan hanyut menjauh," bunyi unggahan itu. 

Kalimat tersebut menjadi perhatian publik karena dianggap mencerminkan kondisi psikologis seseorang yang tengah berada dalam tekanan berat. Meski demikian, hingga kini penyebab pasti meninggalnya dr. Adrian masih menunggu hasil investigasi resmi dari pihak berwenang.

Di balik profesi dokter yang identik dengan jas putih, gelar akademik, dan tuntutan profesionalisme, terdapat sosok manusia yang juga memiliki keterbatasan. Pendidikan dokter spesialis dikenal sebagai salah satu jenjang pendidikan dengan beban yang sangat tinggi.

Peserta PPDS harus menjalani jam kerja panjang, menghadapi tekanan akademik yang ketat, memikul tanggung jawab besar terhadap keselamatan pasien, hingga beradaptasi dengan kelelahan fisik maupun mental. Tak sedikit yang menilai tekanan tersebut menjadi tantangan serius yang perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama terkait kesehatan mental para tenaga medis.

Kasus meninggalnya dr. Adrian pun kembali membuka diskusi mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan kedokteran yang aman, sehat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan maupun perundungan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kemenkes Hentikan Sementara Pendidikan PPDS Anestesi di RSUP Kandou

Sebagai respons atas peristiwa tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengambil langkah dengan menghentikan sementara kegiatan pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado.

Halaman Selanjutnya

Kebijakan ini diberlakukan sembari menunggu hasil investigasi tim gabungan yang tengah mengusut kasus meninggalnya dr. Adrian, yang diduga berkaitan dengan dugaan perundungan selama menjalani pendidikan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |