Survei: Mayoritas Warga AS Nilai Trump Tak Layak Pimpin Negara Secara Mental dan Fisik

1 week ago 4

Rabu, 6 Mei 2026 - 07:00 WIB

VIVA –Jajak pendapat terbaru terhadap kemampuan presiden Donald Trump dalam memimpin Amerika Serikat tengah ramai diperbincangkan. Dalam survei yang dipublikasi Washington Post-ABC News-Ipsos menunjukkan tingkat skeptisisme tinggi di kalangan masyarakat AS terhadap Donald Trump.

Dalam survey yang dirilis pada Senin 4 Mei waktu setempat mayoritas responden menilai Trump tidak layak baik secara mental maupun fisik menjabat sebagai presiden di tengah dampak lanjutan perang AS-Iran. Tercatat 59 persen responden menilai Trump tidak memiliki ketajaman mental yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas sebagai panglima tertinggi di sebuah negara. Sementara itu hanya 40 persen yang menganggap ia masih cukup mampu memimpin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dari sisi kesehatan fisik, 55 persen responden menilai kondisi Trump tidak cukup baik untuk memimpin, sedangkan 44 persen berpendapat sebaliknya.

Lebih dari separuh responden, yakni 54 persen, responden menilai Trump tidak terlihat sebagai pemimpin yang kuat. Bahkan 67 persen menilai ia tidak mempertimbangkan keputusan penting secara matang yang dianggap mencerminkan gaya kebijakan yang tidak stabil dan implusif terutama dalam penanganan perang di Iran.

Melansir laman presstv.ir, Rabu 6 Mei dalam survey lainnya yang dirilis belakangan ini juga menunjukkan tingkat ketidaksetujuan warga AS terhadap Trump terus meningkat. Hal ini dipicu oleh krisis keterjangkauan harga yang diperburuk oleh perang dengan Iran serta kebijakan tarif besar-besaran.  Seperti diketahui, blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz telah menghentikan lalu lintas komersial dan memicu lonjakan harga energi di Amerika Serikat maupun negara lain.

Meski pemerintah Trump menyampaikan sejumlah klaim optimistis, publik Amerika justru cenderung pesimistis. Dalam survei tersebut, 50 persen responden memperkirakan harga bahan bakar akan memburuk dalam setahun ke depan, sementara hanya 21 persen yang berharap ada perbaikan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menteri Perhubungan Sean Duffy sebelumnya menyatakan dalam program “This Week” ABC News bahwa harga akan turun seketika setelah Selat Hormuz dibuka kembali. Namun pernyataan itu dianggap tidak sejalan dengan kondisi di lapangan selama blokade masih berlangsung.

Trump sendiri bulan lalu sempat menyatakan bahwa harga akan turun secara signifikan menjelang pemilu paruh waktu. Namun, berbagai kebijakan yang dinilai kacau justru disebut memperpanjang tekanan terhadap masyarakat Amerika.

Halaman Selanjutnya

Agresi AS terhadap Iran yang kemudian diikuti gencatan senjata rapuh bulan lalu juga membuat kawasan tetap tegang dan pasar energi global tidak stabil. Meski serangan AS telah mereda dan Trump menyatakan perang “telah berakhir” di hadapan Kongres, dampaknya masih terus terasa.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |