Tak Ingin Jamur Terbuang, Ibu Astuti Justru Bangun Usaha hingga Pimpin Bank Sampah

1 hour ago 1

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:12 WIB

Jakarta, VIVA – Dari sebuah dapur sederhana berukuran tiga kali tiga meter, Ibu Astuti belajar bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah usaha. Justru dari ruang sempit itulah, ia menemukan cara untuk mengubah persoalan menjadi peluang dan perlahan membangun kemandirian ekonomi keluarganya.

Sebagai nasabah PNM Mekaar, Ibu Astuti merintis usaha olahan jamur tiram dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Baginya, memulai usaha bukan sekadar tentang menghasilkan pendapatan, tetapi juga tentang bagaimana memastikan dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga dapat terus terpenuhi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Salah satu persoalan yang kerap dihadapinya adalah hasil panen jamur tiram yang tidak seluruhnya terserap pasar. Ketika jamur segar tidak habis terjual, ada risiko bahan pangan tersebut terbuang begitu saja. Namun, Ibu Astuti memilih untuk tidak berhenti pada persoalan.

Ia mulai memutar cara. Jamur yang sebelumnya berpotensi menjadi sisa diolah kembali menjadi Jamur Krispi dan Stik Jamur. Langkah sederhana itu membuat hasil panen memiliki umur simpan lebih panjang sekaligus menciptakan produk dengan nilai jual baru.

“Dulu saya hanya berpikir bagaimana jamur yang tak habis terjual tidak terbuang. Sekarang saya tahu, dari sesuatu yang hampir terbuang itu, bisa tumbuh sebuah usaha, harapan untuk keluarga, bahkan manfaat untuk banyak orang,” ujar Ibu Astuti.

Bagi Ibu Astuti, perubahan tersebut bukan hanya soal bertambahnya jenis produk. Ia mulai melihat usahanya dengan cara yang berbeda. Masalah pasar yang sebelumnya menjadi tantangan justru mendorongnya untuk lebih kreatif dalam mengolah produk dan mencari nilai tambah dari apa yang sudah dimiliki.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di titik inilah pemberdayaan menjadi penting. Pembiayaan memberikan ruang bagi pengusaha ultra mikro untuk bergerak, sementara pendampingan membantu mereka menemukan cara agar usaha tersebut dapat terus bertumbuh. Kombinasi keduanya menjadi bagian dari pendekatan PNM dalam mendampingi nasabah agar tidak berhenti hanya pada akses modal.

Direktur Utama PNM, Kindaris, mengatakan bahwa pembiayaan dan pemberdayaan perlu berjalan beriringan karena kebutuhan usaha ultra mikro bukan hanya modal, tetapi juga kemampuan untuk mengembangkan usaha dan menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Halaman Selanjutnya

“Pembiayaan memberikan kesempatan bagi nasabah untuk memulai dan mengembangkan usahanya. Tetapi pemberdayaanlah yang membantu mereka menemukan cara untuk naik kelas. Ketika keduanya berjalan bersama, modal tidak berhenti menjadi pinjaman, tetapi dapat berubah menjadi produk yang lebih bernilai, usaha yang lebih kuat, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar Kindaris.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |