Kamis, 11 Juni 2026 - 14:00 WIB
VIVA –Hubungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu disebut mengalami kerenggangan. Hal ini terkait dengan serangan terbaru Israel ke Lebanon dan Iran.
Serangan itu disebut menunjukkan dengan jelas bahwa Trump dan Netanyahu, yang sebelumnya memulai perang dengan langkah yang sejalan, kini memiliki tujuan yang berbeda.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Melansir laman AP News, Kamis 11 Juni Trump secara terbuka pernah memperingatkan Israel agar tidak menyerang Beirut dalam perang melawan kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran. Namun pada hari Minggu, Israel tetap melancarkan serangan tersebut.
Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal balistik ke Israel untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata pada April lalu. Israel kemudian membalas dengan menyerang Iran, padahal Trump sedang menjalani negosiasi intensif dengan Teheran selama beberapa pekan terakhir.
Meski situasi pertempuran kini mulai mereda, perbedaan pandangan antara kedua pemimpin itu tampaknya akan terus berlanjut. Trump, yang partainya akan menghadapi pemilu akhir tahun ini, ingin mengakhiri perang yang semakin tidak populer di mata publik serta membuka kembali Selat Hormuz guna menstabilkan harga energi.
Sementara itu, Iran menegaskan bahwa gencatan senjata penuh di Lebanon merupakan syarat penting bagi tercapainya kesepakatan apa pun.
Di sisi lain, Netanyahu yang juga menghadapi pemilu tahun ini berada di bawah tekanan untuk menghentikan serangan Hezbollah dan membuktikan bahwa Israel sedang memenangkan konflik melawan Iran beserta sekutunya. Ia juga harus menjaga hubungan dengan sekutu terpenting Israel itu tanpa terlihat terlalu tunduk kepada Washington.
Pertimbangan Politik Mendorong Arah yang Berlawanan
Saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, kedua negara tampak berdiri di garis yang sama. Netanyahu menyatakan bahwa tujuan operasi tersebut adalah untuk melemahkan kekuatan militer Republik Islam Iran, menghancurkan program nuklir dan rudal balistiknya, serta menggulingkan pemerintahannya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Trump bahkan mengumumkan kematian pemimpin tertinggi Iran pada gelombang serangan awal dan menyerukan rakyat Iran untuk merebut kembali negaranya.
Namun tidak lama kemudian terlihat jelas bahwa Trump menginginkan kemenangan cepat, seperti yang pernah ia klaim berhasil diraih di Venezuela.
Halaman Selanjutnya
Sebaliknya, Netanyahu tampaknya ingin benar-benar melumpuhkan Iran dan seluruh sekutunya, meskipun harus melalui konflik yang berkepanjangan. Ketika Iran mampu bertahan dari serangan besar selama berminggu-minggu dan tetap menutup Selat Hormuz, masyarakat Amerika dan Israel sama-sama mulai frustrasi, tetapi dengan alasan yang berbeda.

2 days ago
3















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)