VIVA – Aktivitas tambang ilegal di Indonesia tengah menjadi sorotan setelah muncul dugaan hasil tambang dalam negeri, khususnya logam tanah jarang, mengalir ke luar negeri dan berpotensi dimanfaatkan dalam konflik global seperti perang Iran–Israel.
Dugaan ini disampaikan Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, di Jakarta, Rabu, 1 April 2026. Dia menilai lemahnya pengawasan di masa lalu membuka celah penyelundupan sumber daya strategis tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Maroef mengungkapkan adanya indikasi hasil tambang Indonesia yang keluar secara ilegal, kemudian diolah di negara lain menjadi produk berteknologi tinggi. Ia menyoroti logam tanah jarang sebagai komoditas yang kini diperebutkan dunia, terutama karena penggunaannya dalam industri pertahanan.
“Tanah jarang ini yang jadi perebutan sekarang di dunia internasional. Khususnya yang paling sering dipakai untuk industri pertahanan. Kita enggak tahu mungkin ada hasil tambang Indonesia yang berserakan di perang Iran–Israel. Mungkin saja kita enggak tahu,” ujar Maroef dalam keterangan tertulis Senin 6 April 2026.
Ia menambahkan, sebelum adanya Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH), hasil tambang Indonesia diduga telah dimanfaatkan oleh negara lain tanpa disadari. Salah satu contoh yang disinggung adalah dugaan praktik serupa di wilayah Bangka Belitung. Namun, menurutnya, pengawasan saat ini telah diperketat untuk memastikan pemanfaatan sumber daya alam benar-benar untuk kepentingan nasional.
Maroef juga menyinggung adanya negara lain yang turut menikmati hasil tambang Indonesia, termasuk melalui jalur tidak resmi. Dengan penguatan pengawasan oleh pemerintah, diharapkan kebocoran sumber daya tersebut dapat ditekan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di sisi lain, permintaan global terhadap rare earth terus meningkat seiring perkembangan teknologi. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan permintaan magnet berbasis rare earth hampir dua kali lipat dalam satu dekade sejak 2015, mencapai sekitar 90 kiloton pada 2024. Angka ini diproyeksikan naik menjadi lebih dari 120 kiloton pada 2030 dan mencapai 180 kiloton pada 2050.
Dalam rantai pasok global, China masih menjadi pemain dominan dengan kontribusi sekitar 57 persen terhadap permintaan rare earth magnet dunia pada 2024. Meski demikian, pangsa tersebut diperkirakan menurun menjadi sekitar 50 persen pada 2050 seiring masuknya pemain baru seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Halaman Selanjutnya
Di tengah tren tersebut, Indonesia dinilai berada pada posisi strategis karena memiliki cadangan tanah jarang yang melimpah. Berdasarkan data Kementerian ESDM dalam Booklet 2020, potensi logam tanah jarang tersebar di berbagai wilayah, baik sebagai mineral utama maupun produk sampingan dari pengolahan mineral lain.

2 weeks ago
13



























