Tangis Ibu Santri yang Tewas Dibakar, Minta Tolong Prabowo, Singgung Dugaan Oknum Polisi dan Kemenag Tutupi Kasus

21 hours ago 4

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:07 WIB

VIVA – Ibunda Sahril Sobirin, santri asal Lombok yang meninggal dunia setelah menjadi korban pembakaran, menyampaikan permohonan bantuan kepada Presiden Prabowo Subianto. Harapan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPR RI di Jakarta, Senin (13/7).

Dalam rapat tersebut, ibu korban tak kuasa menahan tangis saat memohon agar Presiden Prabowo turun tangan mengusut kasus yang merenggut nyawa putranya. Ia juga meminta agar pelaku, yang diduga merupakan anak pimpinan pondok pesantren, diproses secara tegas sesuai hukum yang berlaku.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain meminta keadilan, ibu Sahril juga menyoroti dugaan adanya keterlibatan sejumlah oknum aparat kepolisian dan pegawai Kementerian Agama di Lombok Tengah yang disebut ikut mengarahkan penyelesaian damai atas kasus tersebut.

Rapat audiensi Komisi III DPR RI dengan keluarga santri korban pembakaran di Lombok

Photo :

  • Yeni Lestari/VIVA

Menurut pengakuannya, keluarga merasa diabaikan setelah menolak menandatangani surat perdamaian yang ditawarkan.

Dalam RDP itu, tim hukum Hotman 911 diwakili oleh Titi Tantry yang membacakan surat dan menyampaikan langsung aspirasi dari ibunda Sahril Sobirin.

Titi menjelaskan bahwa ibu korban hingga kini masih mengalami penderitaan fisik maupun batin akibat kehilangan anaknya dengan cara yang begitu tragis.

"Harapan yang pertama kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, yang saya hormati dan cinta. Kami saya hanyalah seorang ibu kampung yang miskin, yang tidak punya harta dan sekarang tubuh sudah sakit-sakitan, jalan pun sudah tidak normal lagi, karena hancurnya hati saya melihat anak saya Sahril Sobirin, dibakar hidup-hidup sampai meninggal dunia," tutur Titi.

Dalam surat tersebut, ibu Sahril mengatakan dirinya mengirimkan anaknya ke pondok pesantren agar mendapatkan pendidikan agama, bukan justru menjadi korban kekerasan.

"Sebagai rakyat kecil, saya mengetuk pintu hati Bapak Presiden sebagai bapak dari seluruh anak di Indonesia, anak saya ke pondok pesantren untuk belajar agama, agar menjadi anak yang baik, bukan untuk disiksa, ditelanjangi oleh anak pemilik ponpes, lalu dibakar sampai mati," tuturnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia juga mengungkapkan bahwa keluarganya memilih menolak upaya perdamaian yang diajukan.

"Ketika saya menolak surat damai, mereka membuang kami, bapak Presiden, orang miskin seperti saya ini tidak tahu harus mengadu kemana lagi, karena pihak kepolisian dan orang departemen agama di Lombok Tengah justru ikut mengarahkan Pondok Pesantren untuk menyodorkan surat damai demi menutupi kejahatan ini," tuturnya.

Halaman Selanjutnya

Melalui surat yang sama, ibu korban meminta Presiden Prabowo mengirimkan tim kepercayaannya dari Jakarta untuk mengusut dugaan keterlibatan aparat maupun pejabat daerah dalam penanganan kasus tersebut.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |