Tantangan Kecerdasan Finansial di Era Digital

3 hours ago 1

Jumat, 19 Juni 2026 - 21:50 WIB

Jakarta, VIVA – Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan uang. Kini, membayar tagihan, berbelanja, berinvestasi, hingga mengajukan pinjaman dapat dilakukan hanya melalui ponsel dalam hitungan menit.

Kemudahan tersebut membuat layanan keuangan semakin mudah diakses oleh berbagai kalangan, terutama generasi milenial dan Gen Z yang tumbuh bersama internet dan teknologi digital. Namun di balik kemudahan itu, muncul tantangan baru yang mulai mendapat perhatian banyak pihak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tingkat inklusi keuangan kelompok pelajar pada 2025 mencapai 84,42 persen. Sementara itu, tingkat literasi keuangan berada di angka 61,76 persen.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan tumbuh jauh lebih cepat dibanding pemahaman masyarakat dalam mengelola keuangan. Dengan kata lain, semakin banyak anak muda yang memiliki akses ke layanan finansial, tetapi belum tentu memahami cara memanfaatkannya secara sehat.

Fenomena ini semakin terlihat di era media sosial dan perdagangan digital. Berbagai tren gaya hidup, promosi belanja, hingga kemudahan transaksi membuat keputusan keuangan menjadi lebih cepat sekaligus lebih kompleks.

Generasi muda saat ini juga dihadapkan pada berbagai pilihan yang sebelumnya tidak banyak ditemui. Mulai dari dompet digital, investasi daring, layanan pembayaran instan, hingga berbagai fasilitas pembiayaan yang dapat diakses hanya melalui aplikasi.

Direktur Utama HSBC Indonesia, Stuart Rogers, menilai perkembangan teknologi menciptakan tantangan tersendiri bagi generasi muda dalam mengelola keuangan. Menurutnya, akses yang mudah tidak selalu diikuti kemampuan mengambil keputusan finansial yang tepat.

"Mereka dihadapkan pada keputusan finansial yang rumit akibat tekanan konsumsi digital seperti tren belanja online dan media sosial serta kemudahan layanan keuangan instan lewat aplikasi. Oleh karena itu, edukasi teori saja tidak cukup. Mereka butuh ruang aman untuk membangun kebiasaan finansial yang bijak," ujarnya, dikutip Jumat 19 Juni 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kemudahan bertransaksi sering kali membuat pengeluaran terasa tidak lagi seperti mengeluarkan uang secara langsung. Akibatnya, sebagian pengguna menjadi lebih rentan melakukan pembelian impulsif atau mengabaikan perencanaan keuangan jangka panjang.

Karena itu, para pemerhati literasi keuangan menilai pendidikan finansial perlu berkembang mengikuti perubahan zaman. Fokusnya tidak hanya memahami konsep menabung atau investasi, tetapi juga bagaimana menghadapi tekanan sosial di dunia digital dan mengelola berbagai layanan keuangan modern secara bertanggung jawab.

Halaman Selanjutnya

Contohnya program Financial Empowerment Pathways 2026 yang diadakan HSBC Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia, yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih praktis kepada generasi muda dalam mengelola keuangan sehari-hari.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |