Uni Eropa Kualat sama Rusia

1 hour ago 1

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:51 WIB

VIVA - Krisis energi membayangi Uni Eropa (UE). Stok penyimpanan gas di Benua Biru kini berada di salah satu tingkat musiman terendah dalam sejarah.

Kondisi ini memicu kepanikan menjelang musim dingin di kalangan pedagang, yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah serta komitmen Brussels untuk menghentikan ketergantungan pada energi Rusia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data European Network of Transmission System Operators for Gas (ENTSOG) mencatat stok gas Uni Eropa saat ini hanya tersisa 64 persen.

Angka tersebut jauh di bawah rata-rata sekitar 80 persen yang biasanya tercatat pada periode yang sama dalam beberapa tahun terakhir, seperti dikutip dari Russia Today, Senin, 31 Agustus 2026.

Sebagai perbandingan, tingkat penyimpanan mencapai sekitar 66 persen pada 29 Agustus 2021 dan 72 persen pada tanggal yang sama pada 2013. Kondisi lebih mengkhawatirkan terlihat di sejumlah negara.

Penyimpanan gas Jerman hanya sedikit di atas 50 persen kapasitas, sementara Belanda sekitar 45 persen dan Belgia sekitar 50 persen, berdasarkan data terbaru Gas Infrastructure Europe (GIE).

Pemerintah Belanda bahkan memperkirakan target penyimpanan untuk musim dingin sulit tercapai akibat lambatnya pengisian dan minimnya insentif bagi pedagang untuk membeli serta menyimpan gas lebih awal.

Di Inggris, fasilitas penyimpanan gas hanya terisi sekitar 30 persen kapasitas. Namun, Inggris secara historis memang lebih mengandalkan pasokan impor berkelanjutan dibandingkan cadangan dalam negeri.

Tekanan pasokan diperparah oleh penutupan de facto Selat Hormuz yang mengganggu ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) dari Qatar.

Meskipun Qatar hanya menyumbang 6,6 persen LNG Uni Eropa pada awal 2026, memanasnya situasi Timur Tengah memicu persaingan sengit antara pembeli Eropa dan Asia untuk mengamankan energi.

Imbasnya, harga gas alam melonjak hingga melampaui 66 Euro (Rp1,3 juta) per megawatt-jam—lebih dari dua kali lipat dibanding awal tahun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Analis SEB, Bjarne Schieldrop, menilai pasar yang semula tenang kini mulai panik karena pemulihan jalur Selat Hormuz diperkirakan memakan waktu lama.

Krisis ini terjadi saat Uni Eropa konsisten menjalankan sanksi terhadap Moskow. Pasokan gas Rusia yang dahulu menyumbang 45 persen impor UE pada 2021, kini merosot hingga 12 persen pada 2025.

Halaman Selanjutnya

Kebijakan lepas dari energi Rusia ini membangkitkan ingatan atas krisis energi 2022, ketika harga gas melambung hingga 300 Euro (hampir Rp6,2 juta) per megawatt-jam yang memicu lonjakan inflasi dan biaya hidup.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |