VIVA –Seorang wanita berinisial YTR berusia 29 tahun diduga dianiaya dan disekap kekasihnya berinisial TH selama tiga tahun di kamar kosnya di wilayah Cileunyi Kabupaten Bandung Jawa Barat. Dugaan penganiayaan itu menyebabkan YTR mengalami luka berat hampir di seluruh tubuh dan wajahnya.
Korban bahkan mengalami keterbatasan dalam berkomunikasi, melihat hingga tidak bisa berjalan. Saat ini, korban diketahui masih menjalani perawatan intensif di ruang isolasi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kasus yang menimpa YTR juga mendapat perhatian kriminolog Hanifa Hasna. Dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam, ia menjelaskan faktor psikologis yang dapat mendorong seseorang melakukan tindakan sekejam itu.
Hanifa menilai tindakan pelaku tidak didasari oleh cinta, melainkan adanya dominasi dalam hubungan.
"Kalau kita lihat di sini ada dominasi dari seorang laki-laki terhadap perempuan. Kalau kita melihat apakah ini karena cinta sepertinya tidak, kalau cinta tidak seperti itu, cinta itu membuat orang berkembang," kata dia dikutip dari saluran YouTube TvOne, Minggu 21 Juni 2026.
Hanifa menjelaskan bahwa pelaku berupaya mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat. Kondisi tersebut, lanjutnya, kerap membuat korban merasa lemah sehingga sulit mengambil keputusan untuk keluar atau melarikan diri dari hubungan tersebut.
"Tapi ini dia berusaha mempertahankan hubungan yang tidak lagi sehat. Ini biasanya diyakini oleh perempuan itu sebagai kondisi-kondisi yang membuat dia lemah sehingga dia tidak bisa melakukan pergerakan atau keputusan melarikan diri," sambung dia.
Hanifa juga menyoroti lemahnya kepedulian sosial di lingkungan sekitar yang dinilainya turut berkontribusi dalam tidak terdeteksinya kasus tersebut sejak awal.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurutnya, peristiwa itu menunjukkan adanya kegagalan kontrol sosial di masyarakat. Padahal, kejadian tersebut berlangsung di lingkungan kos dengan jarak antar kamar yang berdekatan dan suara benturan keras kerap terdengar.
"Ini sangat memprihatinkan karena termasuk dalam kegagalan deteksi social. Ini kejadiannya di kos-kosan dimana jarak antar kamar itu dekat dan sering terdengar benturan keras. Tapi apa daya masyarakat kita saat ini cenderung merasa bahwa yang bisa menyelamatkan bukan saya tapi mungkin orang lain," kata dia.
Halaman Selanjutnya
Meski demikian, Hanifa menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa disalahkan atas tindakan yang dilakukan pelaku. Namun, menurutnya, lemahnya kontrol sosial tetap menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.

2 hours ago
1














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3225899/original/035012600_1599019411-photo-1522844990619-4951c40f7eda__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6590892/original/028812500_1779430402-WhatsApp_Image_2026-05-22_at_09.39.34.jpeg)