1.923 Hotspot Kepung Papua Tengah, Nabire Jadi Wilayah Paling Parah

5 hours ago 2

Senin, 24 Agustus 2026 - 02:00 WIB

Nabire, VIVA – Sebanyak 1.923 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Papua Tengah dalam periode 10-22 Agustus 2026. Kabupaten Nabire menjadi wilayah dengan temuan hotspot terbanyak, mencapai 1.069 titik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Papua Tengah saat ini tengah menghadapi curah hujan yang sangat rendah. Situasi ini membuat lahan dan vegetasi lebih mudah terbakar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala BMKG Nabire Husain Kamadi mengatakan dari total 1.923 hotspot yang terdeteksi, sebanyak 273 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 1.537 titik masuk kategori sedang, dan 113 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

"Kondisi saat ini, kita bisa lihat bahwa curah hujannya sangat rendah. Sumber air khususnya di wilayah Kabupaten Nabire sangat rendah sehingga potensi kebakaran sangat mudah terjadi manakala terpicu oleh api," katanya dikutip Senin, 24 Agustus 2026.

Menurut Husain, analisis curah hujan dalam tiga dasarian terakhir menunjukkan kondisi yang sangat rendah. Dampaknya, ketersediaan sumber air di Nabire ikut menurun.

Kondisi lahan yang kering membuat vegetasi menjadi lebih mudah terbakar. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor kepada BPBD atau instansi terkait jika menemukan titik api.

Masyarakat juga diingatkan tidak melakukan tindakan yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan di lahan atau semak yang kondisinya kering.

Banyaknya hotspot juga mulai dikhawatirkan berdampak terhadap kualitas udara di Nabire. BMKG menyebut asap dari kebakaran dapat menjadi sumber penurunan kualitas udara di wilayah tersebut.

Saat ini BMKG belum memiliki stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) di Papua Tengah untuk melakukan pengukuran kualitas udara secara langsung.

"Kalau kita lihat secara visual, kondisi saat ini kualitas udaranya sudah sangat menurun. Dengan adanya titik panas, ini menjadi sumber asap di Nabire," ujarnya.

Husain menjelaskan partikel asap dan debu dapat bertahan cukup lama di atmosfer apabila tidak ada hujan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu dampak yang perlu diwaspadai yakni infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Selama tidak ada hujan di wilayah Kabupaten Nabire, asap akan selalu bertahan. Partikel-partikel udara ini akan terus bertahan di atmosfer," katanya.

Halaman Selanjutnya

BMKG meminta masyarakat tidak mengabaikan potensi kebakaran di tengah kondisi cuaca yang kering. Warga diminta segera melaporkan titik api yang ditemukan agar dapat ditangani sedini mungkin sebelum meluas. (Ant)

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |