Jakarta, VIVA – Polri mulai mengubah cara menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemadaman ketika api sudah berkobar dinilai tidak lagi cukup, sehingga strategi penanganan diarahkan untuk memprediksi dan mencegah kebakaran sebelum meluas.
Perubahan strategi itu disampaikan Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo saat memberikan pembekalan kepada 322 personel Satgas Edukasi, Penyuluhan dan Pencegahan Karhutla gelombang kedua di Lapangan Bhara Daksa STIK PTIK Lemdiklat Polri, Jakarta, Senin, 7 September 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Para personel tersebut akan ditugaskan selama 10 hari ke Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Wakapolri mendorong penerapan multi-approach policing yang menggabungkan prediksi, pencegahan, teknologi, keterlibatan masyarakat, pengelolaan ekologi, respons kedaruratan, penegakan hukum hingga komunikasi krisis.
"Jangan hanya datang untuk penyuluhan. Rekan-rekan adalah middle dan top manager. Lihat bagaimana organisasi bekerja, bagaimana kondisi wilayah, bagaimana kebijakan dilaksanakan dan apa yang masih kurang," kata dia.
Hingga 6 September 2026, tercatat 113.616 hotspot dengan luas lahan terbakar mencapai 202.010 hektare yang tersebar di 38 provinsi.
Jumlah hotspot tertinggi tercatat pada Agustus 2026 sebanyak 58.243 titik, kemudian September mencapai 38.237 titik.
Dari keseluruhan hotspot tersebut, sebanyak 23.228 titik atau 20,4 persen telah diverifikasi sebagai titik api. Sebanyak 26.302 titik atau 23,1 persen belum terverifikasi, sedangkan 64.086 titik atau 56,4 persen dinyatakan bukan titik api.
Sementara itu, tindakan pemadaman telah dilakukan terhadap 18.085 titik. Data tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam strategi predictive policing.
Polri mendorong integrasi data hotspot, cuaca, kondisi muka air tanah, gambut dan riwayat kebakaran dengan teknologi drone, satelit hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence.
Dengan pendekatan tersebut, wilayah yang memiliki risiko tinggi dapat dipetakan sehingga sumber daya dapat digerakkan sebelum kebakaran berkembang. Wakapolri juga menyoroti kondisi ekologis, khususnya lahan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Data SiTMAT KLH per 6 September menunjukkan muka air tanah berada dalam kondisi sangat rawan di sejumlah wilayah. Di antaranya Kalteng minus 143 cm, Kalbar minus 163 cm, Sumsel minus 231,1 cm, Kaltim minus 142,6 cm, Riau minus 209 cm dan Kaltara minus 137 cm.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman api.
Halaman Selanjutnya
“Jangan hanya mengejar api. Kalau akar masalahnya kondisi gambut yang kering, tata airnya harus kita benahi,” katanya.

1 week ago
2













