Jakarta, VIVA – Ratusan satuan pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) terdampak gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Pemerintah kini bergerak agar kerusakan sekolah tidak membuat kegiatan belajar mengajar terhenti.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan 50 tenda Ruang Kelas Darurat untuk menjaga keberlanjutan pembelajaran sekaligus memastikan keselamatan para siswa dan guru.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Berdasarkan pendataan per 16 Agustus 2026, tercatat 253 satuan pendidikan terdampak gempa. Rinciannya, 199 satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB yang menjadi kewenangan kabupaten serta 54 satuan pendidikan jenjang SMA/SMK/SLB di bawah kewenangan provinsi.
Jumlah tersebut termasuk Ruang Kelas Baru hasil Revitalisasi 2026, seperti SDN Wae Wulan dan SDI Lengko Randang.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan keselamatan warga sekolah menjadi perhatian utama dalam penanganan dampak gempa.
“Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” katanya, Jumat, 4 September 2026.
Kemendikdasmen saat ini turun menangani dampak gempa di tujuh kabupaten di Pulau Flores, yakni Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka.
Dari sejumlah wilayah terdampak, Kabupaten Manggarai Timur menjadi daerah dengan kerusakan satuan pendidikan paling banyak.
Tercatat 104 satuan pendidikan dari berbagai jenjang terdampak. Sementara di Kabupaten Manggarai Barat terdapat 52 satuan pendidikan yang terdampak.
Untuk wilayah Manggarai Timur, sebanyak 51 satuan pendidikan terdampak terdiri dari 33 SD dan 18 SMP/MTs.
Dampak gempa juga dirasakan langsung oleh warga sekolah. Bahkan, musibah tersebut menyebabkan tiga orang dari lingkungan satuan pendidikan meninggal dunia.
“Selain kerusakan bangunan, musibah gempa bumi juga menelan korban jiwa dari lingkungan satuan pendidikan yakni dua orang murid dan satu orang guru,” ucapnya.
Untuk mencegah risiko terhadap siswa maupun guru, Kemendikdasmen mengarahkan sekolah menghentikan sementara pembelajaran di ruang kelas yang mengalami kerusakan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kegiatan belajar kemudian dapat dipindahkan ke ruang yang aman, tenda belajar, atau pembelajaran diliburkan sementara sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.
Sebagai langkah cepat, Kemendikdasmen menyiapkan 50 tenda Ruang Kelas Darurat yang dikirim melalui dua klaster ekspedisi.
Halaman Selanjutnya
Klaster pertama mengirim 30 tenda dari tempat penyimpanan di Jakarta dan Yogyakarta menuju Pelabuhan Labuan Bajo.

1 week ago
19













