Abu Vulkanik Terlanjur Masuk Saluran Napas, Apa yang Harus Dilakukan?

4 days ago 7

Kamis, 10 September 2026 - 08:30 WIB

VIVA – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali membuat masyarakat di sejumlah wilayah harus mewaspadai paparan abu vulkanik. Material abu yang terbawa angin tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup.

Abu vulkanik terdiri dari partikel sangat halus yang dapat mengiritasi hidung, tenggorokan dan saluran pernapasan. Karena itu, Anda yang sempat berada di luar ruangan ketika abu Gunung Anak Krakatau menyebar,perlu memperhatikan kondisi tubuh, terutama jika mulai mengalami batuk atau gangguan pernapasan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jika sudah terpapar atau terlanjur menghirup abu vulkanik, bukan berarti Anda harus panik. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghentikan paparan dan mengurangi risiko gangguan kesehatan. Berikut informasi selengkapnya sebagainya dihimpun dari CDC, Kamis, 10 September 2026.

1. Segera menjauh dari paparan abu

Hal pertama yang perlu dilakukan setelah menghirup abu vulkanik adalah menjauh dari sumber paparan. Jika Anda masih berada di luar ruangan dan abu masih beterbangan, segera masuk ke dalam ruangan yang udaranya lebih bersih.

Tutup pintu dan jendela untuk mencegah abu kembali masuk. Hindari berada di luar rumah selama hujan abu masih berlangsung atau ketika kualitas udara belum dinyatakan aman.

2. Jangan kembali menghirup abu

Setelah berada di tempat yang lebih aman, usahakan tidak kembali terpapar. Abu yang sudah mengendap di jalan, halaman atau atap rumah juga dapat kembali beterbangan ketika tertiup angin atau saat dibersihkan.

Jika memang harus keluar rumah, gunakan respirator N95 yang terpasang rapat. Perlindungan tersebut juga penting ketika Anda membersihkan abu vulkanik di sekitar rumah.

3. Kurangi aktivitas fisik

Setelah terpapar abu, sebaiknya Anda tidak langsung melakukan aktivitas fisik berat, terutama jika mulai muncul batuk, tenggorokan terasa mengganjal atau napas tidak nyaman.

Aktivitas berat membuat frekuensi pernapasan meningkat. Dalam kondisi udara masih mengandung partikel abu, hal tersebut berpotensi membuat lebih banyak partikel masuk ke saluran pernapasan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

4. Perhatikan gejala yang muncul

Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan sejumlah keluhan pada saluran pernapasan. Beberapa di antaranya adalah batuk, iritasi hidung dan tenggorokan, napas terasa tidak nyaman, pusing hingga sakit kepala.

Halaman Selanjutnya

Keluhan ringan dapat membaik setelah Anda menjauh dari paparan dan berada di lingkungan dengan udara yang lebih bersih. Namun, jangan mengabaikan gejala yang menetap atau semakin berat.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |