AI bikin Rakyat Indonesia Tekor Rp6 Triliun

17 hours ago 1

Selasa, 12 Mei 2026 - 23:32 WIB

Jakarta, VIVA - Indonesia mencatat 274 ribu laporan penipuan keuangan dengan total kerugian masyarakat melebihi Rp6 triliun di sepanjang periode 2024 hingga 2025, sebagian besar didorong oleh serangan deepfake berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyasar celah di sistem onboarding digital perbankan.

Merespons eskalasi ancaman siber ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa verifikasi liveness dan deteksi anomali secara real-time kini bukan lagi fitur opsional, melainkan keharusan operasional bagi seluruh lembaga jasa keuangan di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kerangka pengawasan kami terus berkembang. Kami mengharapkan lembaga jasa keuangan menerapkan autentikasi berlapis, verifikasi liveness yang kuat, serta deteksi anomali secara real-time sebagai kebutuhan operasional utama, bukan sekadar fitur tambahan opsional,” kata Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK, Indah Iramadhini, Selasa, 12 Mei 2026.

Deepfake, yang merupakan audio, video, dan gambar sintetis yang dihasilkan AI untuk meniru identitas seseorang secara meyakinkan, kini telah bergeser dari ancaman teoritis menjadi instrumen penipuan aktif yang menyasar sistem keuangan Indonesia.

Pesatnya penetrasi perbankan digital, dengan puluhan juta rekening yang dibuka melalui kanal remote onboarding, telah secara signifikan memperluas permukaan serangan.

Proses onboarding yang dirancang untuk mendorong inklusi keuangan secara bersamaan membuka celah yang kini dieksploitasi secara sistematis oleh pelaku penipuan.

Sementara itu, sistem berbasis aturan konvensional yang sebelumnya digunakan memang tidak dirancang untuk mendeteksi ancaman semacam ini. Oleh karena itu, bagi perusahaan pembiayaan, fintech, dan platform pembayaran digital, risiko ini menjadi nyata, terukur, dan terus meningkat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Government Relations Director, Advance.AI Indonesia, Entin Rostini, memberikan kabar baiknya kalau teknologi untuk mendeteksi dan mencegah serangan deepfake sudah tersedia dan telah matang.

Tantangannya adalah bagaimana menerapkannya dalam skala besar serta mengintegrasikannya ke seluruh proses onboarding dan pemantauan transaksi. “Kami berada di garis depan dalam menghadapi tantangan deepfake di Asia Tenggara selama beberapa tahun terakhir,” ujar dia.

Ilustrasi PHK

Perusahaan Ramai-Ramai Pangkas Karyawan demi AI, Ini Data Terbarunya

AI menjadi penyebab utama PHK global pada April 2026 dengan kontribusi 26 persen dari total pemutusan kerja, menurut laporan Challenger. Baca di sini selengkapnya

img_title

VIVA.co.id

12 Mei 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |