VIVA – Kasus penipuan digital dan keluhan terkait keamanan transaksi menjadi tantangan yang terus berkembang seiring semakin banyaknya masyarakat menggunakan dompet digital. Modus yang dilakukan pelaku juga semakin beragam, mulai dari phishing, penyalahgunaan data, hingga penggunaan teknologi deepfake.
Di tengah situasi tersebut, kecerdasan buatan atau AI mulai dimanfaatkan untuk membantu mendeteksi aktivitas mencurigakan. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk mengenali transaksi yang berpotensi fraud, tetapi juga membaca pola jaringan pelaku penipuan dan menghadapi modus kejahatan yang memanfaatkan AI.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pemanfaatan AI dalam layanan keuangan salah satunya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi fraud. Sistem dapat menganalisis berbagai atribut dalam sebuah transaksi untuk menentukan apakah aktivitas tersebut tergolong normal, mencurigakan, atau membutuhkan pemeriksaan tambahan.
"Jadi, setiap transaksi yang terjadi, kita melihat berbagai atribut dari transaksi tersebut, kemudian kita bisa menyimpulkan apakah transaksi itu nyata, merupakan penipuan, atau kita belum yakin," ujar Norman Sasono CTO DANA Indonesia.
Menurutnya, ketika sistem belum dapat memastikan apakah sebuah transaksi aman atau merupakan fraud, pengguna dapat diberikan lapisan verifikasi tambahan.
"Kalau kita belum yakin, kita bisa melakukan tindakan dengan memberikan pemeriksaan tambahan, mengumpulkan lebih banyak data dari pengguna untuk memastikan apakah transaksi tersebut nyata atau merupakan penipuan. Misalnya, kita melakukan verifikasi dengan PIN, pengenalan wajah, kemudian kunci sandi, atau verifikasi melalui aplikasi," jelasnya.
Menariknya, pemilihan jenis verifikasi tersebut juga dapat dibantu AI. Sistem dapat mempertimbangkan kondisi transaksi untuk menentukan metode pemeriksaan yang dianggap sesuai.
"Kapan kita menggunakan pemeriksaan yang mana, itu juga tidak sembarangan. AI juga yang menentukan, misalnya kalau kasusnya seperti ini, pemeriksaan yang seharusnya digunakan adalah ini. Kalau kasusnya berbeda, pemeriksaannya juga berbeda," lanjut Norman.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ancaman keamanan digital tidak berhenti pada satu akun atau satu transaksi. Pelaku penipuan dapat bekerja dalam jaringan yang saling terhubung. Karena itu, teknologi AI juga mulai dimanfaatkan untuk melihat hubungan antara satu pelaku dengan pelaku lainnya.
Norman menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dapat dilakukan menggunakan graph AI, yang membantu membaca keterkaitan dalam sebuah jaringan.
Halaman Selanjutnya
"Jadi, misalnya ada seorang penipu yang memiliki teman, kemudian temannya juga memiliki teman, nah itu juga bisa kita lihat. Untuk melakukan hal tersebut memang tidak mudah. Dibutuhkan suatu teknik dalam AI yang disebut graph AI, serta platform basis data graf dan sebagainya," ungkapnya.

1 week ago
2













